Selasa, 26 Maret 2024

This is the article with the title "Asal-usul Kota Malang, dari Malangkucecwara hingga Perlawanan Rakyat pada Sunan Mataram" taken from kompas.com along with a translation in English.

Asal-usul Kota Malang, dari Malangkucecwara hingga Perlawanan Rakyat pada Sunan Mataram


KOMPAS.com - Gempa bermagnitudo 6,7 mengguncang Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya pada Sabtu (10/4/2021) sekitar pukul 14.00 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, pusat gempa berada di 90 kilometer barat daya Kabupaten Malang. Pusat gempa yang berada di lepas pantai memiliki kedalaman 25 kilometer. Menurut BMKG, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Malang adalah kota besar dan memiliki peran penting di Provinsi Jawa Tmur. Berada di dataran tinggi yang cukup sejuk. Brada di sebelah selatan Kota Surabaya. Malang juga menjadi kota terbesar nomor dua setelah Surabaya.

Mengapa disebut Malang?

Dukutip dari buku Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe, nama Malang diduga bersumber dari nama bangunana suci yang tertulis di dalam dua prasasti Raja Balitung di Jawa Tengah. Yakni Prasasti Mantyasih tahun 907 dan Prasasti tahun 908 yang ditemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Bangunan suci itu bernama Malangkucecwara, sebuah nama yang terdiri dari tiga kata, yakni 'mala' yang berarti segala sesuatu yag kotor, kecurangan, kepalsuan, atau bathil. Kata kedua adalah "angkuca'' yang berarti menghancurkan atau membinasakan. Sedangkan kara 'icwara' berarti Tuhan. Dengan demikian Malangkucecwara berarti Tuhan menghancurkan yang bathil. Namun hingga kini bangunan suci peninggalana purbakala belum juga ditemukan. Diduga, bangunan tersebut ada di daerah pegunungan di sebelah timur Kota Malang. Ada juga yang menduga keberadaannya di daerah Tumpanh di sebelah utara Kota Malang. Pendapat lain menyebut nama Malang berasal dari masa Kerajaan Mataram. Kala itu ada aksi 'membantah' atau 'menghalang-halangi' yang dalam bahasa Jawa berarti malang. Konon Sunan Mataram ingin memperluas wilayahnya hingga ke Jawa Timur dan ingin menguasai kawasan Malang. Namun penduduk setempat melakukan perlawanan. Mereka menghalang-halangi sehingga terjadilah perang besar. Sunan menganggap usahanya telah dihalang-halangi, rakyat membantah atau malang. Peristiwa tersebut diduga asal-usul nama Kota Malang.

Kawasan pemukiman sejak masa purbakala

Disebutkan cikal bakal Kota Malang adalah kwasan pemukiman sejak masa purbakala. Banyaknya sungai yang mengalir membuatnya cocok untuk kawasan pemukiman. Seperti kawasan Dinoyo dn Tlogomas yang pernah menjadi kawasan pemukiman prasejarah. Di Dinoyo ditemukan prasasti, bangunan percandian, dan arca-arca, bekas pondasi batu bata, bekas saluran drinase, serta berbagai gerabah. Peninggalan tersebut ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan yang berkuasa pada abad ke-9 dan abad ke-9. Kerajaan Kanjuruhan adalah tonggak pertumbuhan pusat pemerintaha di kawasan tersebut hingga hari ini. Setelah Kanjuruhan, masa emas juga dialami wilayah tersebut di masa Kerajaan Singosari. 

Malang di Masa Kolonial Belanda

Pada masa penjajahan kolonial Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah Gemante (kota). Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang. Seperti Ijen Boullevard dan kawasan sekitarnya. Kawasan tersebut hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda da Bangsa Eropa lainnya. Sementara penduduk asli tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kota Malang berkembang terutama saat dioperasikan jalur kereta api pada tahun 1879. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

https://regional.kompas.com/read/2021/04/11/082800878/asal-usul-kota-malang-dari-malangkucecwara-hingga-perlawanan-rakyat-pada


The Origins of Malang City, from Malangkucecwara to the People's Resistance during the Sunan Matara Era


KOMPAS.com - A magnitude 6.7 earthquake struck Malang, East Java, and its surrounding areas on Saturday (4/10/2021) around 14.00 WIB (Western Indonesian Time). The Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) stated that the epicenter of the earthquake was located 90 kilometers southwest of Malang Regency. The earthquake's offshore epicenter had a depth of 25 kilometers. According to the BMKG, this earthquake was not expected to generate a tsunami. Malang is a major city with significant importance in East Java Province. It is situated in a relatively cool highland area and lies south of Surabaya. Malang is the second-largest city after Surabaya.

But why is it called Malang?

According to the book "The Origins of Cities in Tempo Doeloe Indonesia," the name Malang is believed to originate from the name of a sacred building mentioned in two inscriptions of King Balitung in Central Java. These are the Mantyasih Inscription from 907 and the inscription from 908 found in a location between Surabaya and Malang. The sacred building was called Malangkucecwara, consisting of three words: 'mala', meaning everything that is dirty, dishonest, false, or futile; 'angkuca', meaning to destroy or annihilate; and 'icwara', meaning God. Thus, Malangkucecwara means God destroys the futile. However, the ancient sacred building has not yet been found, although it is suspected to be in the mountainous areas east of Malang or in the Tumpang area north of Malang. Another theory suggests that the name Malang originated during the Mataram Kingdom era. At that time, there was resistance or obstruction ('membantah' or 'menghalang-halangi' in Javanese) during Sunan Mataram's attempt to expand his territory to East Java and control the Malang region. The local residents resisted, causing a significant war. Sunan Mataram perceived his efforts as being obstructed, hence the term 'bantah' or 'malang' by the people. This event is believed to be the origin of the name Malang.

The settlement area dates back to ancient times.

It is said that the precursor to Malang City was a settlement area since ancient times. The abundance of rivers made it suitable for settlement, such as the Dinoyo and Tlogomas areas, which were once prehistoric settlement areas. In Dinoyo, inscriptions, temple buildings, statues, remnants of brick foundations, drainage channels, and various pottery have been found. These relics date back to the late period of the Kanjuruhan Kingdom, which ruled in the 9th century. The Kanjuruhan Kingdom was a pivotal point in the growth of the governmental center in the region until today. After Kanjuruhan, the region experienced its golden age during the Singosari Kingdom.

During the Dutch colonial period.

The Malang area was designated as a Gemante (city) region. Public facilities were planned in such a way as to meet the needs of Dutch families. The discriminatory impression still lingers today, especially in areas like Ijen Boulevard and its surroundings, which were enjoyed only by Dutch and other European families, while the indigenous population lived on the outskirts of the city with inadequate facilities. Malang experienced significant development, especially when the railway line was operated in 1879. The land use underwent rapid changes, transitioning from agricultural to residential and industrial purposes.


Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Implications of Culture on Language

The implications of culture on language are profound and multifaceted. Culture shapes the way individuals communicate, influencing vocabular...