Jumat, 26 April 2024

This is the article with the title "Urban Legend: Cerita Pesarean Gunung Kawi Tempat Bersemayamnya Cicit Pakubuwono I" taken from detikjatim.com along with a translation in English.

 Urban Legend

Cerita Pesarean Gunung Kawi Tempat Bersemayamnya Cicit Pakubuwono I



Malang - Pesarean Gunung Kawi menjadi obyek wisata religi dan budaya di Kabupaten Malang. Letaknya di sebelah selatan lereng Gunung Kawi, tepatnya di Jalan Pesarean, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

Di dalam area pesarean, terdapat makam dua tokoh yang melegenda bagi masyarakat Jawa maupun masyarakat Tionghoa, yaitu Eyang Njoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono.

Kedua tokoh ini mempunyai kharisma yang hingga kini dikenang dan didoakan oleh masyarakat dari berbagai etnis.

Eyang Njoego atau Kiai Zakaria II adalah cicit dari Susuhunan Paku Buwono I yang memerintah Keraton Mataram dari tahun 1705 sampai dengan 1719. Ayah dari Kiai Zakaria II merupakan ulama besar di lingkungan keraton saat itu.

Eyang Njoego dan putra angkatnya Raden Mas Iman Soedjono merupakan laskar dalam perang Diponegoro. Seperti para pejuang lain di masa kolonial waktu itu.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Kiai Zakaria II berganti nama Eyang Sadjoego atau disingkat Eyang Njoego. Tujuannya, untuk menyamar sebagai rakyat biasa, untuk menghindari kejaran Belanda.

Dalam berkelana, Eyang Njoego kemudian berhenti dan mendirikan padepokan di Desa Jugo, Kecamatan Sanan, Kabupaten Blitar. Setelah wafat, jenazah Eyang Njeogo dibawa ke Wonosari, Kabupaten Malang. Konon, itu merupakan wasiat dari Eyang Njoego kepada pengikutnya.

"Eyang Njoego meninggal pada Senin Pahing tanggal 22 Januari 1871 di padepokannya. Jenazahnya kemudian dibawa dan dimakamkan di Desa Wonosari pada Rabu Wage 24 Januari 1871," terang juru bicara Yayasan Ngesti Gondo pengelola pesarean Gunung Kawi, Alie Zainal Abidin kepada detikJatim, Kamis (26/10/2023).

Pemakaman jenazah Eyang Njoego digelar secara Islam yang dipimpin oleh Raden Mas Iman Soedjono, pada Kamis Kliwon, 25 Januari 1871. Lalu, tahlil akbar digelar pada malam harinya.

Hal ini kemudian menjadi gelaran rutin di pesarean Gunung Kawi untuk menggelar upacara di malam Jumat Legi, selain Senin Pahing menandai hari wafatnya Eyang Njoego.

Selang lima tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1876, Raden Mas Iman Soedjono wafat dan kemudian dimakamkan di sebelah makam Eyang Njoego.

Alie Zainal Abidin mengatakan, Eyang Raden Mas Iman Soedjono merupakan cicit dari Sultan Hamengku Buwono I. Raden Mas Iman Soedjono menikah dengan anggota Laskar Langen Koesoemo yakni Raden Ayi Saminah.

Pasangan ini dikaruniai satu putri bernama Raden Ayu Demes. Keturunan dari Raden Ayu Demes ini lah yang sampai hari ini menjaga pesarean Gunung Kawi. Yakni sebagai juru kunci dan anggota dari Yayasan Ngesti Gondo sebagai pengelola pesarean Gunung Kawi.

"Hingga saat ini, pesarean Gunung Kawi dijaga dan dikelola oleh keturunan dari Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Jika ditelusuri hingga akar silsilahnya, ahli waris dan juru kunci masih mempunyai ikatan darah dengan kerabat Keraton Ngayogyakarta," terang Alie Zainal.

Menurut Alie, sebagai tempat ziarah serta wisata budaya dan sejarah. Pesarean Gunung Kawi selalu berusaha untuk memberikan fasilitas memadai untuk mengakomodasi kebutuhan ziarah pengunjung pesarean.

Selain pendopo dan masjid, lanjut Alie, terdapat juga tempat berdoa Kwan Im dan Tie Kong.

"Pengunjung juga dapat menikmati makanan khas Gunung Kawi, belanja souvenir serta tempat penginapan di dalam dan seputar area pesarean," ujarnya.

Setiap tahunnya, pesarean Gunung Kawi memperingati haul Eyang Njoego dan haul Eyang Raden Mas Iman Soedjono, dengan adat kejawen yang diikuti seluruh anggota yayasan serta masyarakat sekitar.


https://www.detik.com/jatim/wisata/d-7003034/cerita-pesarean-gunung-kawi-tempat-bersemayamnya-cicit-pakubuwono-i


Urban Legend

The story of Gunung Kawi Cemetery where the great-grandson of Pakubuwono I resides


Malang - Pesarean Gunung Kawi is a religious and cultural tourist attraction in Malang Regency. It is located on the southern slope of Mount Kawi, precisely on Pesarean Street, Wonosari District, Malang Regency.

In the area, there are the graves of two legendary figures for the Javanese and Chinese communities, namely Eyang Njoego and Eyang Raden Mas Iman Soedjono.

Both of these figures have charisma that until now is remembered and prayed for by people of various ethnicities.

Eyang Njoego or Kiai Zakaria II was the great-grandson of Susuhunan Paku Buwono I who ruled the Mataram Palace from 1705 to 1719. The father of Kiai Zakaria II was a great scholar in the palace at that time.

Eyang Njoego and his adopted son Raden Mas Iman Soedjono were soldiers in the Diponegoro war. Like other fighters in the colonial period at that time.

After Prince Diponegoro was captured by the Dutch, Kiai Zakaria II changed his name to Eyang Sadjoego or Eyang Njoego for short. The aim was to disguise himself as an ordinary person, to avoid the pursuit of the Dutch.

While traveling, Eyang Njoego stopped and established a hermitage in Jugo Village, Sanan District, Blitar Regency. After his death, Eyang Njeogo's body was brought to Wonosari, Malang Regency. It is said that this was the will of Eyang Njoego to his followers.

"Eyang Njoego died on Monday Pahing, January 22, 1871 in his hermitage. His body was then brought and buried in Wonosari Village on Wednesday Wage January 24, 1871," explained a spokesman for the Ngesti Gondo Foundation, which manages the Gunung Kawi cemetery, Alie Zainal Abidin to detikJatim, Thursday (26/10/2023).

The funeral of Eyang Njoego's body was held in an Islamic manner led by Raden Mas Iman Soedjono, on Thursday Kliwon, January 25, 1871. Then, a grand tahlil was held in the evening.

This then became a routine event in the Gunung Kawi cemetery to hold a ceremony on Friday Legi night, in addition to Monday Pahing marking the day of Eyang Njoego's death.

Five years later or precisely in 1876, Raden Mas Iman Soedjono died and was then buried next to the grave of Eyang Njoego.

Alie Zainal Abidin said that Eyang Raden Mas Iman Soedjono was the great-grandson of Sultan Hamengku Buwono I. Raden Mas Iman Soedjono married a member of Laskar Langen Koesoemo, Raden Ayi Saminah.

The couple had one daughter named Raden Ayu Demes. The descendants of Raden Ayu Demes are the ones who guard the Gunung Kawi cemetery to this day. Namely as caretakers and members of the Ngesti Gondo Foundation as the manager of the Gunung Kawi cemetery.

"To this day, the Gunung Kawi cemetery is guarded and managed by the descendants of Eyang Raden Mas Iman Soedjono. If traced to its genealogical roots, the heirs and caretakers still have blood ties with relatives of the Ngayogyakarta Palace," explained Alie Zainal.

According to Alie, as a place of pilgrimage and cultural and historical tourism. Pesarean Gunung Kawi always tries to provide adequate facilities to accommodate the needs of pilgrimage visitors.

In addition to the pavilion and mosque, Alie continued, there are also places to pray for Kwan Im and Tie Kong.

"Visitors can also enjoy Gunung Kawi specialties, souvenir shopping and lodging in and around the area," he said.

Every year, the Gunung Kawi cemetery commemorates the haul of Eyang Njoego and the haul of Eyang Raden Mas Iman Soedjono, with kejawen customs followed by all members of the foundation and the surrounding community.



Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda

Rabu, 03 April 2024

This is the article with the title "Senate Floor Speech on Ohio Electoral Vote Counting Procedures" taken from americanhetoric.com along with a translation in Indonesia.

 Senate Floor Speech on Ohio Electoral Vote Counting Procedures

Thank you very much, Mr. President; Ladies and Gentlemen of the Senate:

I have to say that I didn't anticipate speaking today, but the importance, I think, of this issue is one in which I feel it's important for me to address this body.

You know, during the election I had the occasion of meeting a woman who had supported me in my campaign. And she decided to come to shake my hand and take a photograph. A wonderful woman, she wasn't asking for anything, and I was very grateful that she took time to come by. It was a[n] unexceptional moment except for the fact that she was born in 1894. And her name was Marguerite Lewis, an African-American woman who had been born in Louisiana, born in the shadow of slavery, born at a time when lynchings were commonplace, born at a time when African-Americans and women could not vote.

And yet, over the course of decades she had participated in broadening our democracy and ensuring that, in fact, at some point, if not herself, then her children and her grandchildren and her great-grandchildren would be in a position in which they could, too, call themselves citizens of the United States and make certain that this Government works not just on behalf of the mighty and the powerful but also on behalf of people like her.

And so the fact that she voted and that her vote was counted in this election was of supreme importance to her and it is the memory of talking to her and shaking her hand that causes me to rise on this occasion.

I am absolutely convinced that the President of the United States, George Bush, won this election. I also believe that he got more votes in Ohio. I think, as has already been said by some of the speakers in this body, he is not some -- this is not an issue in which we are challenging the outcome of the election. And I think it's important for us to separate out the issue of the election outcome with the election process.

I was not in this body four years ago, but what I observed as a voter, as a citizen of Illinois four years ago, were troubling evidence of the fact that not every vote was being counted. And I think that it is unfortunate four years later that we continue to see circumstances in which people who believe that they have the right to vote -- who show up at the polls -- still continue to confront the sort of problems that have been documented as taking place, not just in Ohio, but [in] places all across the country.

I would strongly urge that this Chamber, as well as the House of Representatives, take it upon itself once and for all to reform this system. There is no reason, at a time when we have enormous battles taking place ideologically all across the globe, at a time when we're try to make certain that we encourage democracy in Iraq and Afghanistan and other places throughout the world, that we have the legitimacy of our elections challenged, rightly or wrongly, by people who are not certain as to whether our processes are fair and just. This is something that we can fix. We have experts on both sides of the aisle who know how to fix it. What we've lacked is the political will.

I would strongly urge that, in a circumstance in which too many voters have stood in long lines for hours, in which too many voters have cast votes on machines that jam or malfunction or suck the votes without a trace, in which too many voters try to register to vote only to discover that their names don't appear on the roles, or that partisan political interests and those that serve them have worked hard to throw up every barrier to recognize them as lawful, in which too many voters will know that there are different elections for different parts of the country and that these differences turn shamefully on differences of wealth or of race, in which too many voters have to contend with state officials, servants of the public, who put partisan or personal political interests ahead of the public in administering our elections -- in such circumstances, we have an obligation to fix the problem.

And I have to add that this is not a problem unique to this election, and it is not a partisan problem. Keep in mind, I come from Cook County, from Chicago, in which there is a long record of these kinds of problems taking place and disadvantaging Republicans as well as Democrats. So I would ask that all of us rise up and use this occasion --

Senate President: Senator's time has expired.
Senator Obama: -- to amend this problem. Thank you.

https://www.americanrhetoric.com/speeches/barackobama/barackobamasenatespeechonohioelectoralvotes.htm


Pidato di Senat tentang Prosedur Penghitungan Suara Pemilihan Ohio

Terima kasih banyak, Bapak Presiden; Hadirin sekalian yang terhormat di Senat: Saya harus mengatakan bahwa saya tidak mengantisipasi untuk berbicara hari ini, tetapi saya pikir, pentingnya masalah ini adalah salah satu yang saya rasa penting bagi saya untuk berbicara di hadapan badan ini. Anda tahu, selama pemilu saya berkesempatan bertemu dengan seorang wanita yang telah mendukung saya dalam kampanye. Dan dia memutuskan untuk datang untuk menjabat tangan saya dan berfoto bersama. Seorang wanita yang luar biasa, dia tidak meminta apa pun, dan saya sangat berterima kasih karena dia menyempatkan diri untuk datang. Itu adalah momen yang luar biasa kecuali fakta bahwa dia lahir pada tahun 1894. Namanya Marguerite Lewis, seorang wanita Afrika-Amerika yang lahir di Louisiana, lahir di bawah bayang-bayang perbudakan, lahir di masa ketika hukuman mati merupakan hal yang lumrah, lahir di masa ketika orang Afrika-Amerika dan wanita tidak dapat memberikan suara. Namun, selama beberapa dekade ia telah berpartisipasi dalam memperluas demokrasi kita dan memastikan bahwa, pada kenyataannya, pada suatu saat nanti, jika bukan dirinya sendiri, maka anak-anaknya, cucu-cucunya, dan cicit-cicitnya akan berada dalam posisi di mana mereka juga dapat menyebut diri mereka sebagai warga negara Amerika Serikat dan memastikan bahwa Pemerintah ini bekerja tidak hanya atas nama yang berkuasa dan berkuasa, namun juga atas nama orang-orang seperti dirinya. Jadi, fakta bahwa dia memberikan suara dan suaranya dihitung dalam pemilihan ini merupakan hal yang sangat penting baginya dan kenangan saat berbicara dengannya dan menjabat tangannya itulah yang membuat saya berdiri pada kesempatan ini. Saya sangat yakin bahwa Presiden Amerika Serikat, George Bush, memenangkan pemilihan ini. Saya juga yakin bahwa dia mendapatkan lebih banyak suara di Ohio. Saya pikir, seperti yang telah dikatakan oleh beberapa pembicara di badan ini, dia bukan orang - ini bukan masalah di mana kita menantang hasil pemilu. Dan saya pikir penting bagi kita untuk memisahkan masalah hasil pemilu dengan proses pemilu. Saya tidak berada di badan ini empat tahun yang lalu, namun apa yang saya amati sebagai pemilih, sebagai warga negara Illinois empat tahun yang lalu, adalah bukti-bukti yang mengganggu tentang fakta bahwa tidak semua suara dihitung. Dan saya pikir sangat disayangkan bahwa empat tahun kemudian kita terus melihat situasi di mana orang-orang yang percaya bahwa mereka memiliki hak untuk memilih - yang datang ke tempat pemungutan suara - masih terus menghadapi masalah seperti yang telah didokumentasikan sebagai hal yang terjadi, tidak hanya di Ohio, tetapi juga di berbagai tempat di seluruh negeri. Saya akan sangat mendesak agar Dewan Perwakilan Rakyat, serta Dewan Perwakilan Rakyat, untuk segera mereformasi sistem ini. Tidak ada alasan, pada saat kita menghadapi pertempuran besar yang terjadi secara ideologis di seluruh dunia, pada saat kita berusaha memastikan bahwa kita mendorong demokrasi di Irak dan Afghanistan serta tempat-tempat lain di seluruh dunia, legitimasi pemilihan umum kita ditentang, benar atau salah, oleh orang-orang yang tidak yakin bahwa proses pemilihan umum yang kita jalankan sudah jujur dan adil. Ini adalah sesuatu yang dapat kita perbaiki. Kita memiliki para ahli di kedua sisi yang tahu bagaimana cara memperbaikinya. Yang kurang dari kita adalah kemauan politik. Saya akan sangat mendesak bahwa, dalam situasi di mana terlalu banyak pemilih yang berdiri dalam antrean panjang selama berjam-jam, di mana terlalu banyak pemilih yang memberikan suara pada mesin yang macet atau rusak atau menyedot suara tanpa jejak, di mana terlalu banyak pemilih yang mencoba mendaftar untuk memberikan suara hanya untuk menemukan bahwa nama mereka tidak muncul di peran, atau bahwa kepentingan politik partisan dan mereka yang melayani mereka telah bekerja keras untuk melemparkan semua penghalang untuk mengakui mereka sebagai sah, di mana terlalu banyak pemilih yang tahu bahwa ada pemilihan yang berbeda untuk berbagai wilayah di negara ini dan bahwa perbedaan-perbedaan ini menjadi memalukan karena perbedaan kekayaan atau ras, di mana terlalu banyak pemilih yang harus berhadapan dengan para pejabat negara, para pelayan masyarakat, yang mengutamakan kepentingan politik partisan atau kepentingan politik pribadi daripada kepentingan publik dalam menyelenggarakan pemilihan umum kita - dalam situasi seperti itu, kita berkewajiban untuk mengatasi masalah tersebut. Dan saya harus menambahkan bahwa ini bukanlah masalah yang hanya terjadi pada pemilu kali ini, dan ini bukan masalah partisan. Perlu diingat, saya berasal dari Cook County, dari Chicago, di mana terdapat catatan panjang tentang masalah-masalah seperti ini yang terjadi dan merugikan Partai Republik maupun Partai Demokrat. Jadi saya meminta kita semua untuk bangkit dan menggunakan kesempatan ini - Presiden Senat: Waktu Senator telah habis. Senator Obama: - untuk memperbaiki masalah ini. Terima kasih.

Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda

Implications of Culture on Language

The implications of culture on language are profound and multifaceted. Culture shapes the way individuals communicate, influencing vocabular...