The
implications of culture on language are profound and multifaceted. Culture
shapes the way individuals communicate, influencing vocabulary, syntax, idioms,
and even the context in which language is used. Understanding the cultural
context of a language enhances comprehension and effective communication,
fostering deeper connections between speakers from diverse backgrounds. Thus,
the interplay between culture and language is dynamic, continuously shaping and
reshaping each other.
muhammad3rwin
Kamis, 20 Juni 2024
Implications of Culture on Language
Jumat, 31 Mei 2024
Berikut adalah Artikel Menarik untuk Memperingati dan Mengenal tentang Hari Penerjemah Internasional! Yuk simak selengkapnya...
Sejarah dan Tema Hari Penerjemah Internasional 2023
Bandung - Hari Penerjemah Internasional atau Internasional Translator Day
diperingati setiap 30 September. Menjadi sebuah kesempatan untuk menghormati
pekerjaan para penerjemah bahasa yang memiliki peran penting dalam
mempersatukan seluruh bangsa.
Penerjemah
memiliki peran dalam memfasilitasi dialog, pemahaman, dan kerjasama, untuk
pembangunan dan memperkuat perdamaian serta keamanan dunia.
Untuk memahami
lebih lanjut, berikut tema Hari Penerjemah Internasional 2023 beserta
penjelasan, asal-usul peringatan, tujuan, serta fakta unik dari penerjemah.
Tema Hari Penerjemah Internasional
2023
Mengutip dari
International Federation of Translators, Hari Penerjemah Internasional 2023
mengusung tema "Translation Unveils The Many Faces of Humanity" yang
berarti "Terjemahan Mengungkap Banyak Wajah Kemanusiaan". Untuk
memperingati Hari Penerjemahan Internasional tahun ini, seluruh dunia ingin
mengakui pentingnya peran penerjemah dalam kehidupan.
Penerjemah
mampu membuka dunia pengalaman manusia, memberikan kita jalan ke dalam
budaya-budaya lain. Ketika terjadi guncangan iklim dan geopolitik di seluruh
dunia, maka penerjemah memainkan peran penting dalam mengatasi ancaman terhadap
perdamaian dan keamanan, dalam diplomasi dan kerja sama antar negara,
pembangunan berkelanjutan, dan bantuan kemanusiaan, martabat manusia dan hak
asasi manusia.
Apa Itu
Penerjemah?
Penerjemah
memiliki peran penting dalam mengonversi konten tertulis atau lisan dari satu
bahasa ke bahasa lain dengan tetap mempertahankan makna, konteks, dan
nuansanya. Mereka menjembatani komunikasi antara individu, organisasi, dan
budaya yang menggunakan bahasa berbeda. Bekerja di berbagai bidang, termasuk
sastra, bisnis, hukum, medis, teknis, dan konteks diplomatik.
Selain
penerjemahan secara langsung, penerjemah memiliki kemampuan untuk menangkap
ekspresi idiomatik, bahasa sehari-hari, dan referensi budaya untuk menghasilkan
terjemahan yang terasa alami dan relevan secara budaya. Baik penerjemahan
literatur, dokumen hukum, komunikasi bisnis, atau konten lainnya. Intinya,
penerjemah memiliki fungsi sebagai jembatan pemahaman, memungkinkan komunikasi
dan kolaborasi global.
Asal-Usul
Peringatan
Dipilihnya
tanggal 30 September sebagai Hari Penerjemahan Internasional diambil dari
perayaan pesta St. Jerome yang merupakan seorang imam dan cendekiawan asal
Italia yang berjasa dalam menerjemahkan Alkitab pertama kali.
St. Jerome atau
dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai Santo Hieronimus, memulai
perjalanannya untuk menerjemahkan Alkitab dari manuskrip Perjanjian Baru
berbahasa Yunani ke dalam bahasa Latin. Dia juga menerjemahkan sejumlah bagian
dari Kitab Injil Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Memiliki kemampuan bahasa yang
fasih, didapatkan St. Jerome melalui studi dan berbagai perjalanannya.
St. Jerome
meninggal pada 30 September 420 di dekat Betlehem. Setelah meninggal ia disebut
sebagai Santo pelindung para penerjemah karena upayanya dalam membuat Alkitab
dapat diakses oleh banyak orang.
Hari Penerjemah
Internasional didelegasikan Federasi Penerjemah Internasional (FIT) sejak
didirikan pada tahun 1953. Pada saat itu, para penerjemah kurang diakui dan
dihormati secara layak terlepas dari pentingnya peran mereka di era
globalisasi. Maka dari itu, FIT muncul untuk memiliki hari khusus dalam rangka
menghormati para penerjemah pada tahun 1991.
Kemudian Hari
Penerjemah Internasional, disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) pada tanggal 24 Mei 2017, menyatakan bahwa perayaan Hari Penerjemah
Internasional setiap tahun jatuh pada tanggal 30 September.
Fakta Unik dari
Penerjemah
Mengutip dari
beberapa sumber berikut 5 fakta menarik tentang profesi penerjemah.
1. Ada Kontes
Penerjemah Tahunan
Sejak tahun
2005, setiap tahunnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengundang seluruh
stafnya yang terakreditasi dan mahasiswa dari universitas mitra terpilih untuk
bersaing dalam kontes Terjemahan St. Jerome PBB. Sebuah kontes yang memberikan
penghargaan kepada penerjemah terbaik dalam bahasa Arab, China, Inggris, Prancis,
Rusia, Spanyol, dan Jerman.
2. Memiliki
Peran Penting dalam Berbagai Aspek Pembangunan
Bahasa dengan
implikasinya yang kompleks terhadap identitas, komunikasi, integrasi sosial,
pendidikan dan pembangunan, memiliki kepentingan strategis bagi manusia. Ada
kesadaran yang berkembang bahwa bahasa memainkan peran penting dalam
pembangunan dunia.
Bukan hanya
memediasi dialog antarbudaya, tetapi juga dalam mencapai pendidikan berkualitas
untuk semua dan memperkuat kerja sama. Turut serta juga dalam membangun
pengetahuan yang inklusif bagi masyarakat dan melestarikan warisan budaya,
hingga dalam memobilisasi kemauan politik untuk menerapkan manfaat ilmu
pengetahuan dan teknologi bagi pembangunan berkelanjutan.
3. Membangun
Suasana Harmonis
Terciptanya
komunikasi yang harmonis di antara warga dunia tidak lepas dari peran profesi
penerjemah ini. Para ahli multibahasa juga menjadi garda terdepan dalam
mempromosikan toleransi, memastikan partisipasi yang efektif dari semua pihak.
4. Paling Besar
Bekerja Untuk PBB
Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi organisasi yang memiliki profesional bahasa
terbesar di dunia. Beberapa ratus staf bahasa bekerja di kantor-kantor PBB di
New York, Jenewa, Wina dan Nairobi, atau di komisi regional PBB di Addis Ababa,
Bangkok, Beirut, Jenewa dan Santiago.
Penerjemah
adalah salah satu jenis profesional bahasa yang dipekerjakan di PBB. Spesialis
bahasa PBB ini meliputi asisten editorial dan penerbitan, editor bahasa,
interpreter, penulis, editor produksi dan penerbitan, penerjemah, hingga
wartawan.
5. Penguasaan
Multibahasa
Penerjemah PBB
menangani semua jenis dokumen, dari pernyataan oleh negara anggota hingga
laporan yang disiapkan oleh badan ahli. Dokumen-dokumen yang mereka terjemahkan
mencakup setiap topik dalam agenda PBB, termasuk hak asasi manusia, perdamaian
dan keamanan, dan pembangunan.
Masalah baru
muncul setiap hari. Dokumen PBB dikeluarkan secara bersamaan dalam enam bahasa
resmi Organisasi (Arab, China, Inggris, Prancis, Rusia dan Spanyol). Beberapa
dokumen inti juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.
Dokumentasi
multibahasa ini dimungkinkan oleh para penerjemah PBB, yang tugasnya adalah
menerjemahkan secara jelas dan akurat isi teks asli ke dalam bahasa utama
mereka.
Source: https://www.detik.com/jabar/berita/d-6954506/sejarah-dan-tema-hari-penerjemah-internasional-2023
By: Daffa Sarja – Detik Jabar
The History and Theme of International Translator Day 2023
Bandung - International Translator Day is commemorated every 30th of
September. It serves as an opportunity to honor the work of language
translators who play a crucial role in unifying nations.
Translators
facilitate dialogue, understanding, and cooperation for global development and
the strengthening of world peace and security.
To delve
deeper, here is the theme of International Translator Day 2023 along with its
explanation, the origin of the commemoration, objectives, and unique facts
about translators.
Theme of International Translator
Day 2023
Quoting from
the International Federation of Translators, the theme for International
Translator Day 2023 is "Translation Unveils The Many Faces of
Humanity". This theme signifies the importance of translators in our
lives.
They have the
ability to open up the world of human experiences, providing us with insights
into different cultures. Amid climate and geopolitical upheavals worldwide,
translators play a crucial role in addressing threats to peace and security, in
diplomacy and international cooperation, sustainable development, and
humanitarian assistance, human dignity, and human rights.
What is a Translator?
A translator
plays a crucial role in converting written or spoken content from one language
to another while preserving its meaning, context, and nuances. They bridge
communication gaps between individuals, organizations, and cultures that speak
different languages. Working across various fields including literature,
business, law, medicine, technical, and diplomatic contexts.
In addition to
direct translation, translators have the ability to capture idiomatic
expressions, everyday language, and cultural references to produce translations
that feel natural and culturally relevant. Whether it's translating literature,
legal documents, business communications, or other content, translators
essentially function as bridges of understanding, enabling global communication
and collaboration.
Origin of the Commemoration
The choice of
September 30 as International Translator Day is derived from the celebration of
St. Jerome's feast day, who was an Italian priest and scholar credited with the
first translation of the Bible.
St. Jerome,
also known as Santo Hieronimus in Indonesian, embarked on the journey of
translating the Bible from Greek manuscripts of the New Testament into Latin.
He also translated several parts of the Hebrew Gospel into Greek. Possessing
fluent language skills, St. Jerome acquired through studies and various
travels.
St. Jerome
passed away on September 30, 420, near Bethlehem. Following his death, he was
hailed as the patron saint of translators for his efforts in making the Bible
accessible to many.
International
Translator Day was delegated by the International Federation of Translators
(FIT) since its establishment in 1953. At that time, translators were less
recognized and respected despite the significance of their role in the era of
globalization. Hence, FIT emerged to designate a special day to honor
translators in 1991.
Subsequently,
International Translator Day was endorsed by the United Nations General
Assembly on May 24, 2017, declaring that the celebration of International
Translator Day falls on September 30 each year.
Unique Facts about Translators
Citing from
various sources, here are 5 interesting facts about the profession of
translators:
1. Annual
Translator Contest
Since 2005, the
United Nations (UN) invites all its accredited staff and students from selected
partner universities to compete in the UN St. Jerome Translation Contest
annually. This contest awards the best translators in Arabic, Chinese, English,
French, Russian, Spanish, and German.
2. Significant
Role in Various Development Aspects
Languages, with
their complex implications for identity, communication, social integration,
education, and development, hold strategic importance for humanity. There is a
growing awareness that languages play a crucial role in global development.
They not only mediate intercultural dialogue but also in achieving quality
education for all and strengthening cooperation. They also participate in
building inclusive knowledge for society and preserving cultural heritage, as
well as mobilizing political will to apply the benefits of science and
technology for sustainable development.
3. Building a
Harmonious Atmosphere
The creation of
harmonious communication among global citizens is inseparable from the role of
this profession. Multilingual experts also play a frontline role in promoting
tolerance and ensuring effective participation from all parties.
4. Largest
Workforce for the UN
The United
Nations (UN) is the organization with the largest language professionals in the
world. Several hundred language staff work in UN offices in New York, Geneva,
Vienna, and Nairobi, or in UN regional commissions in Addis Ababa, Bangkok,
Beirut, Geneva, and Santiago. Translators are one type of language professional
employed by the UN. UN language specialists include editorial and publishing
assistants, language editors, interpreters, writers, production and publishing
editors, translators, and journalists.
5. Multilingual
Mastery
UN translators
handle all types of documents, from statements by member states to reports
prepared by expert bodies. The documents they translate cover every topic on
the UN agenda, including human rights, peace and security, and development. New
issues arise every day. UN documents are issued simultaneously in the six
official languages of the Organization (Arabic, Chinese, English, French,
Russian, and Spanish). Some core documents are also translated into German.
This multilingual documentation is made possible by UN translators, whose task
is to translate the original text clearly and accurately into their main
languages.
Translated by Muhammad Erwin Fatahillah
Edited by Bayu Miftahul Huda
What If the Future of Translation will Involve Collaboration between Humans and Technology? Let's Read the Following Article!
The Future of Translation is Part Human, Part Machine
This elusive
idea is something that developers have been chasing for years. Free tools like
Google Translate – which is used to translate over 100 billion words a day –
along with other apps and hardware that claim to translate foreign languages as
they are spoken are now available, but something is still missing.
Yes, you can
now buy earpiece technology reminiscent of the Hitchiker’s Guide to the Galaxy
babel fish – a bit of kit which claims to do a similar job to that of a
university-trained, professionally-experienced, multilingual translator – but
it’s really not that simple.
Despite the
rather interesting claim in 1958 that translation is a Roman invention, it’s
likely that it has been around as long as the written word, and interpretation
even longer. We have evidence of interpreters being employed by ancient
civilisations. Greece and Rome were, like many areas of the ancient world,
multilingual, and so needed both translators and interpreters.
The question of
how one should translate is just as old. Roman poet Cicero dictated that a
translation ought to be “non verbum de verbo, sed sensum exprimere de sensu” –
of expressing not word for word, but sense for sense.
This brief trip
into the world of theory has one simple purpose: to emphasise that translation
is not just about the words, and automating the process of replacing one with
another could never be a substitute for human translation. Translation is about
the words’ meaning, their connotative as well as their denotative sense, and
how to express that meaning in such a way that it is both readable and
comprehensible.
From meaning to
decoding
Why then are we
still pursuing this idea that technology could ever begin to adequately
translate language? Back in the 1930s, when research into machine translation
had just begun, developers still believed that mechanically replacing one word
with another, with minimal syntactic reordering at first, would be an
acceptable way to translate. And the world still lingers under this impression
today.
These
developers were brilliant in their own fields but linguists they were not.
Warren Weaver, a talented scientist and mathematician, summed up this early
thinking in 1949: “One naturally wonders if the problem of translation could
conceivably be treated as a problem in cryptography. When I look at an article
in Russian, I say: ‘This is really written in English, but it has been coded in
some strange symbols. I will now proceed to decode’.”
To Weaver,
translation was just about ousting one symbol for another. The actual meaning
of these “strange symbols” was deemed irrelevant.
Translators and
translation researchers often read how automation may be the future – some
already believe it’s already happened, as it has in so many other fields – but
we are nowhere near an infallible technology. There are plenty of examples in
Wales alone where non-Welsh speaking people have used online translation
services, and published before proof-reading. The results are most often
reported with humour, but have undoubtedly led to confusion and a human
translator stepping in to solve the problem.
But that is not
to say that automation doesn’t have its place. Machines, for example, help
lawyers, doctors and teachers – they have not replaced them. In the same vein,
machines help us translators work better, and can aid accuracy, but unless an
incredible technological breakthrough is made, we cannot be replaced by them.
Machines have become quite good indeed at translating the text, but when it
comes to text-behind-text, they need help.
Correcting
machines
My own thesis
into English to Welsh translation – due to be published later this year – shows
that a translator working to correct the output from machine translation makes
for higher productivity and quicker translation.
Further
research has also found that this correction process leads to texts that are
just as acceptable as translations produced from scratch. In societies like
Wales where translation is one of the main ways bilingual services are
provided, this productivity growth is all-important. Well over 350,000 people
speak Welsh every day, while local authorities across the UK are also
translating into numerous other languages. It is absolutely vital that they are
quickly and effectively understood.
Today, machine
translation can create rough drafts of relatively simple language, and research
shows that correcting this draft is usually more efficient than translation
from scratch by a human. But machines do not now – and it is questionable
whether they ever will be able to – replace a translator’s brain. No matter how
complex the code behind it, an automated system would struggle to get the same
sense of the words.
Source: https://theconversation.com/the-future-of-translation-is-part-human-part-machine-76253
By: Ben Screen - PhD Researcher, Cardiff University
Masa Depan Penerjemahan adalah Bagian Manusia, Bagian Mesin
Bayangkan sebuah dunia di mana setiap orang dapat saling memahami
dengan sempurna. Bahasa diterjemahkan saat kita berbicara, dan momen canggung
saat mencoba dipahami menjadi sesuatu dari masa lalu.
Gagasan yang sulit dicapai ini adalah sesuatu yang telah dikejar
oleh para pengembang selama bertahun-tahun. Alat gratis seperti Google
Translate – yang digunakan untuk menerjemahkan lebih dari 100 miliar kata
setiap hari – bersama dengan aplikasi dan perangkat keras lain yang mengklaim
dapat menerjemahkan bahasa asing saat diucapkan kini tersedia, tetapi masih ada
sesuatu yang kurang.
Ya, sekarang Anda bisa membeli teknologi earphone yang mengingatkan
pada babel fish dari Hitchhiker’s Guide to the Galaxy – sebuah perangkat yang
mengklaim melakukan pekerjaan serupa dengan penerjemah multibahasa yang
terlatih di universitas dan berpengalaman profesional – tetapi kenyataannya
tidak sesederhana itu.
Meskipun ada klaim yang cukup menarik pada tahun 1958 bahwa
penerjemahan adalah penemuan Romawi, kemungkinan besar penerjemahan sudah ada
sejak kata-kata tertulis muncul, dan interpretasi bahkan lebih lama. Kami
memiliki bukti bahwa para penerjemah telah dipekerjakan oleh peradaban kuno.
Yunani dan Roma, seperti banyak wilayah dunia kuno lainnya, adalah masyarakat
multibahasa, sehingga mereka membutuhkan penerjemah dan juru bahasa.
Pertanyaan tentang bagaimana seseorang harus menerjemahkan sama
tuanya dengan penerjemahan itu sendiri. Penyair Romawi Cicero menetapkan bahwa
penerjemahan seharusnya "non verbum de verbo, sed sensum exprimere de
sensu" – yaitu mengekspresikan bukan kata demi kata, tetapi makna demi
makna.
Perjalanan singkat ini ke dunia teori memiliki satu tujuan
sederhana: untuk menekankan bahwa penerjemahan bukan hanya tentang kata-kata,
dan mengotomatiskan proses menggantikan satu kata dengan kata lain tidak akan
pernah bisa menjadi pengganti penerjemahan manusia. Penerjemahan adalah tentang
makna kata-kata, baik makna konotatif maupun denotatif, dan bagaimana
mengekspresikan makna itu sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan dipahami.
Dari Makna ke Dekoding
Lalu mengapa kita masih mengejar gagasan bahwa teknologi dapat
secara memadai menerjemahkan bahasa? Pada tahun 1930-an, ketika penelitian
tentang penerjemahan mesin baru dimulai, para pengembang masih percaya bahwa
mengganti satu kata dengan kata lain secara mekanis, dengan sedikit penyusunan
ulang sintaksis pada awalnya, akan menjadi cara yang dapat diterima untuk
menerjemahkan. Dan dunia masih berada di bawah kesan ini hingga hari ini.
Para pengembang ini sangat cerdas di bidang mereka masing-masing,
tetapi mereka bukanlah ahli bahasa. Warren Weaver, seorang ilmuwan dan
matematikawan berbakat, merangkum pemikiran awal ini pada tahun 1949:
“Seseorang secara alami bertanya-tanya apakah masalah penerjemahan dapat
dianggap sebagai masalah dalam kriptografi. Ketika saya melihat sebuah artikel
dalam bahasa Rusia, saya berkata: 'Ini sebenarnya ditulis dalam bahasa Inggris,
tetapi telah dikodekan dalam beberapa simbol aneh. Sekarang saya akan
melanjutkan untuk mendekode.'”
Bagi Weaver, penerjemahan hanya tentang mengganti satu simbol
dengan simbol lain. Makna sebenarnya dari “simbol aneh” ini dianggap tidak
relevan.
Penerjemah dan peneliti penerjemahan sering membaca bahwa
otomatisasi mungkin menjadi masa depan – beberapa sudah percaya bahwa itu telah
terjadi, seperti dalam banyak bidang lainnya – tetapi kita masih jauh dari
teknologi yang tak dapat salah. Ada banyak contoh di Wales saja di mana orang
yang tidak berbicara bahasa Wales menggunakan layanan terjemahan online, dan
menerbitkan sebelum memeriksa. Hasilnya sering dilaporkan dengan humor, tetapi
tidak diragukan lagi menyebabkan kebingungan dan penerjemah manusia turun
tangan untuk menyelesaikan masalah.
Namun itu bukan berarti otomatisasi tidak memiliki tempatnya.
Mesin, misalnya, membantu pengacara, dokter, dan guru – mereka tidak
menggantikannya. Dalam hal yang sama, mesin membantu kita, para penerjemah, bekerja
lebih baik, dan dapat membantu ketepatan, tetapi kecuali ada terobosan
teknologi yang luar biasa, kita tidak dapat digantikan oleh mereka. Mesin
memang menjadi cukup baik dalam menerjemahkan teks, tetapi ketika datang pada
makna di balik teks, mereka masih membutuhkan bantuan.
Menyempurnakan
Mesin
Penelitian saya
sendiri tentang terjemahan dari bahasa Inggris ke Wales – yang akan diterbitkan
nanti tahun ini – menunjukkan bahwa seorang penerjemah yang bekerja untuk
memperbaiki hasil dari terjemahan mesin meningkatkan produktivitas dan
mempercepat proses terjemahan.
Penelitian
lebih lanjut juga menemukan bahwa proses koreksi ini menghasilkan teks yang
sama dapat diterima dengan terjemahan yang dibuat dari awal. Di masyarakat
seperti Wales di mana terjemahan adalah salah satu cara utama penyediaan
layanan dwibahasa, pertumbuhan produktivitas ini sangat penting. Lebih dari
350.000 orang berbicara dalam bahasa Wales setiap hari, sementara otoritas
lokal di seluruh Inggris juga menerjemahkan ke berbagai bahasa lainnya. Sangat
penting bahwa informasi tersebut dipahami dengan cepat dan efektif.
Saat ini, mesin
terjemahan dapat membuat draf kasar dari bahasa yang relatif sederhana, dan penelitian
menunjukkan bahwa mengoreksi draf ini biasanya lebih efisien daripada
menerjemahkan dari awal oleh manusia. Tetapi mesin tidak sekarang – dan
dipertanyakan apakah mereka akan pernah mampu – menggantikan otak seorang
penerjemah. Terlepas dari seberapa kompleks kode di baliknya, sebuah sistem
otomatis akan kesulitan untuk mendapatkan makna yang sama dari kata-kata.
Translated by Muhammad Erwin Fatahillah
Edited by Bayu Miftahul Huda
Jumat, 17 Mei 2024
Molly Wright: How every child can thrive by five
"How Every Child Can Thrive by Five" is a transformative guide that highlights the crucial early years of a child's development. This video provides parents, educators, and caregivers with practical, evidence-based strategies to nurture a child's cognitive, emotional, and social growth during the first five years. By following these simple yet impactful practices, you can help lay a strong foundation for your child's future success.
Translated by Muhammad Erwin Fatahillah
Selasa, 14 Mei 2024
What If a Simple Blood Test Could Detect Cancer?
Jumat, 26 April 2024
This is the article with the title "Urban Legend: Cerita Pesarean Gunung Kawi Tempat Bersemayamnya Cicit Pakubuwono I" taken from detikjatim.com along with a translation in English.
Urban Legend
Cerita Pesarean Gunung Kawi Tempat Bersemayamnya Cicit Pakubuwono I
Malang - Pesarean Gunung Kawi menjadi obyek wisata religi dan budaya di Kabupaten Malang. Letaknya di sebelah selatan lereng Gunung Kawi, tepatnya di Jalan Pesarean, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Di dalam area pesarean, terdapat makam dua tokoh yang melegenda bagi masyarakat Jawa maupun masyarakat Tionghoa, yaitu Eyang Njoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono.
Kedua tokoh ini mempunyai kharisma yang hingga kini dikenang dan didoakan oleh masyarakat dari berbagai etnis.
Eyang Njoego atau Kiai Zakaria II adalah cicit dari Susuhunan Paku Buwono I yang memerintah Keraton Mataram dari tahun 1705 sampai dengan 1719. Ayah dari Kiai Zakaria II merupakan ulama besar di lingkungan keraton saat itu.
Eyang Njoego dan putra angkatnya Raden Mas Iman Soedjono merupakan laskar dalam perang Diponegoro. Seperti para pejuang lain di masa kolonial waktu itu.
Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Kiai Zakaria II berganti nama Eyang Sadjoego atau disingkat Eyang Njoego. Tujuannya, untuk menyamar sebagai rakyat biasa, untuk menghindari kejaran Belanda.
Dalam berkelana, Eyang Njoego kemudian berhenti dan mendirikan padepokan di Desa Jugo, Kecamatan Sanan, Kabupaten Blitar. Setelah wafat, jenazah Eyang Njeogo dibawa ke Wonosari, Kabupaten Malang. Konon, itu merupakan wasiat dari Eyang Njoego kepada pengikutnya.
"Eyang Njoego meninggal pada Senin Pahing tanggal 22 Januari 1871 di padepokannya. Jenazahnya kemudian dibawa dan dimakamkan di Desa Wonosari pada Rabu Wage 24 Januari 1871," terang juru bicara Yayasan Ngesti Gondo pengelola pesarean Gunung Kawi, Alie Zainal Abidin kepada detikJatim, Kamis (26/10/2023).
Pemakaman jenazah Eyang Njoego digelar secara Islam yang dipimpin oleh Raden Mas Iman Soedjono, pada Kamis Kliwon, 25 Januari 1871. Lalu, tahlil akbar digelar pada malam harinya.
Hal ini kemudian menjadi gelaran rutin di pesarean Gunung Kawi untuk menggelar upacara di malam Jumat Legi, selain Senin Pahing menandai hari wafatnya Eyang Njoego.
Selang lima tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1876, Raden Mas Iman Soedjono wafat dan kemudian dimakamkan di sebelah makam Eyang Njoego.
Alie Zainal Abidin mengatakan, Eyang Raden Mas Iman Soedjono merupakan cicit dari Sultan Hamengku Buwono I. Raden Mas Iman Soedjono menikah dengan anggota Laskar Langen Koesoemo yakni Raden Ayi Saminah.
Pasangan ini dikaruniai satu putri bernama Raden Ayu Demes. Keturunan dari Raden Ayu Demes ini lah yang sampai hari ini menjaga pesarean Gunung Kawi. Yakni sebagai juru kunci dan anggota dari Yayasan Ngesti Gondo sebagai pengelola pesarean Gunung Kawi.
"Hingga saat ini, pesarean Gunung Kawi dijaga dan dikelola oleh keturunan dari Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Jika ditelusuri hingga akar silsilahnya, ahli waris dan juru kunci masih mempunyai ikatan darah dengan kerabat Keraton Ngayogyakarta," terang Alie Zainal.
Menurut Alie, sebagai tempat ziarah serta wisata budaya dan sejarah. Pesarean Gunung Kawi selalu berusaha untuk memberikan fasilitas memadai untuk mengakomodasi kebutuhan ziarah pengunjung pesarean.
Selain pendopo dan masjid, lanjut Alie, terdapat juga tempat berdoa Kwan Im dan Tie Kong.
"Pengunjung juga dapat menikmati makanan khas Gunung Kawi, belanja souvenir serta tempat penginapan di dalam dan seputar area pesarean," ujarnya.
Setiap tahunnya, pesarean Gunung Kawi memperingati haul Eyang Njoego dan haul Eyang Raden Mas Iman Soedjono, dengan adat kejawen yang diikuti seluruh anggota yayasan serta masyarakat sekitar.
https://www.detik.com/jatim/wisata/d-7003034/cerita-pesarean-gunung-kawi-tempat-bersemayamnya-cicit-pakubuwono-i
Urban Legend
The story of Gunung Kawi Cemetery where the great-grandson of Pakubuwono I resides
Malang - Pesarean Gunung Kawi is a religious and cultural tourist attraction in Malang Regency. It is located on the southern slope of Mount Kawi, precisely on Pesarean Street, Wonosari District, Malang Regency.
In the area, there are the graves of two legendary figures for the Javanese and Chinese communities, namely Eyang Njoego and Eyang Raden Mas Iman Soedjono.
Both of these figures have charisma that until now is remembered and prayed for by people of various ethnicities.
Eyang Njoego or Kiai Zakaria II was the great-grandson of Susuhunan Paku Buwono I who ruled the Mataram Palace from 1705 to 1719. The father of Kiai Zakaria II was a great scholar in the palace at that time.
Eyang Njoego and his adopted son Raden Mas Iman Soedjono were soldiers in the Diponegoro war. Like other fighters in the colonial period at that time.
After Prince Diponegoro was captured by the Dutch, Kiai Zakaria II changed his name to Eyang Sadjoego or Eyang Njoego for short. The aim was to disguise himself as an ordinary person, to avoid the pursuit of the Dutch.
While traveling, Eyang Njoego stopped and established a hermitage in Jugo Village, Sanan District, Blitar Regency. After his death, Eyang Njeogo's body was brought to Wonosari, Malang Regency. It is said that this was the will of Eyang Njoego to his followers.
"Eyang Njoego died on Monday Pahing, January 22, 1871 in his hermitage. His body was then brought and buried in Wonosari Village on Wednesday Wage January 24, 1871," explained a spokesman for the Ngesti Gondo Foundation, which manages the Gunung Kawi cemetery, Alie Zainal Abidin to detikJatim, Thursday (26/10/2023).
The funeral of Eyang Njoego's body was held in an Islamic manner led by Raden Mas Iman Soedjono, on Thursday Kliwon, January 25, 1871. Then, a grand tahlil was held in the evening.
This then became a routine event in the Gunung Kawi cemetery to hold a ceremony on Friday Legi night, in addition to Monday Pahing marking the day of Eyang Njoego's death.
Five years later or precisely in 1876, Raden Mas Iman Soedjono died and was then buried next to the grave of Eyang Njoego.
Alie Zainal Abidin said that Eyang Raden Mas Iman Soedjono was the great-grandson of Sultan Hamengku Buwono I. Raden Mas Iman Soedjono married a member of Laskar Langen Koesoemo, Raden Ayi Saminah.
The couple had one daughter named Raden Ayu Demes. The descendants of Raden Ayu Demes are the ones who guard the Gunung Kawi cemetery to this day. Namely as caretakers and members of the Ngesti Gondo Foundation as the manager of the Gunung Kawi cemetery.
"To this day, the Gunung Kawi cemetery is guarded and managed by the descendants of Eyang Raden Mas Iman Soedjono. If traced to its genealogical roots, the heirs and caretakers still have blood ties with relatives of the Ngayogyakarta Palace," explained Alie Zainal.
According to Alie, as a place of pilgrimage and cultural and historical tourism. Pesarean Gunung Kawi always tries to provide adequate facilities to accommodate the needs of pilgrimage visitors.
In addition to the pavilion and mosque, Alie continued, there are also places to pray for Kwan Im and Tie Kong.
"Visitors can also enjoy Gunung Kawi specialties, souvenir shopping and lodging in and around the area," he said.
Every year, the Gunung Kawi cemetery commemorates the haul of Eyang Njoego and the haul of Eyang Raden Mas Iman Soedjono, with kejawen customs followed by all members of the foundation and the surrounding community.
Translated by Muhammad Erwin Fatahillah
Edited by Bayu Miftahul Huda
Rabu, 03 April 2024
This is the article with the title "Senate Floor Speech on Ohio Electoral Vote Counting Procedures" taken from americanhetoric.com along with a translation in Indonesia.
Senate Floor Speech on Ohio Electoral Vote Counting Procedures
.jpg)
And so the fact that she voted and that her vote was counted in this election was of supreme importance to her and it is the memory of talking to her and shaking her hand that causes me to rise on this occasion.
Senate President: Senator's time has expired.
Senator Obama: -- to amend this problem. Thank you.
Pidato di Senat tentang Prosedur Penghitungan Suara Pemilihan Ohio
Terima kasih banyak, Bapak Presiden; Hadirin sekalian yang terhormat di Senat:
Saya harus mengatakan bahwa saya tidak mengantisipasi untuk berbicara hari ini, tetapi saya pikir, pentingnya masalah ini adalah salah satu yang saya rasa penting bagi saya untuk berbicara di hadapan badan ini.
Anda tahu, selama pemilu saya berkesempatan bertemu dengan seorang wanita yang telah mendukung saya dalam kampanye. Dan dia memutuskan untuk datang untuk menjabat tangan saya dan berfoto bersama. Seorang wanita yang luar biasa, dia tidak meminta apa pun, dan saya sangat berterima kasih karena dia menyempatkan diri untuk datang. Itu adalah momen yang luar biasa kecuali fakta bahwa dia lahir pada tahun 1894. Namanya Marguerite Lewis, seorang wanita Afrika-Amerika yang lahir di Louisiana, lahir di bawah bayang-bayang perbudakan, lahir di masa ketika hukuman mati merupakan hal yang lumrah, lahir di masa ketika orang Afrika-Amerika dan wanita tidak dapat memberikan suara.
Namun, selama beberapa dekade ia telah berpartisipasi dalam memperluas demokrasi kita dan memastikan bahwa, pada kenyataannya, pada suatu saat nanti, jika bukan dirinya sendiri, maka anak-anaknya, cucu-cucunya, dan cicit-cicitnya akan berada dalam posisi di mana mereka juga dapat menyebut diri mereka sebagai warga negara Amerika Serikat dan memastikan bahwa Pemerintah ini bekerja tidak hanya atas nama yang berkuasa dan berkuasa, namun juga atas nama orang-orang seperti dirinya.
Jadi, fakta bahwa dia memberikan suara dan suaranya dihitung dalam pemilihan ini merupakan hal yang sangat penting baginya dan kenangan saat berbicara dengannya dan menjabat tangannya itulah yang membuat saya berdiri pada kesempatan ini.
Saya sangat yakin bahwa Presiden Amerika Serikat, George Bush, memenangkan pemilihan ini. Saya juga yakin bahwa dia mendapatkan lebih banyak suara di Ohio. Saya pikir, seperti yang telah dikatakan oleh beberapa pembicara di badan ini, dia bukan orang - ini bukan masalah di mana kita menantang hasil pemilu. Dan saya pikir penting bagi kita untuk memisahkan masalah hasil pemilu dengan proses pemilu.
Saya tidak berada di badan ini empat tahun yang lalu, namun apa yang saya amati sebagai pemilih, sebagai warga negara Illinois empat tahun yang lalu, adalah bukti-bukti yang mengganggu tentang fakta bahwa tidak semua suara dihitung. Dan saya pikir sangat disayangkan bahwa empat tahun kemudian kita terus melihat situasi di mana orang-orang yang percaya bahwa mereka memiliki hak untuk memilih - yang datang ke tempat pemungutan suara - masih terus menghadapi masalah seperti yang telah didokumentasikan sebagai hal yang terjadi, tidak hanya di Ohio, tetapi juga di berbagai tempat di seluruh negeri.
Saya akan sangat mendesak agar Dewan Perwakilan Rakyat, serta Dewan Perwakilan Rakyat, untuk segera mereformasi sistem ini. Tidak ada alasan, pada saat kita menghadapi pertempuran besar yang terjadi secara ideologis di seluruh dunia, pada saat kita berusaha memastikan bahwa kita mendorong demokrasi di Irak dan Afghanistan serta tempat-tempat lain di seluruh dunia, legitimasi pemilihan umum kita ditentang, benar atau salah, oleh orang-orang yang tidak yakin bahwa proses pemilihan umum yang kita jalankan sudah jujur dan adil. Ini adalah sesuatu yang dapat kita perbaiki. Kita memiliki para ahli di kedua sisi yang tahu bagaimana cara memperbaikinya. Yang kurang dari kita adalah kemauan politik.
Saya akan sangat mendesak bahwa, dalam situasi di mana terlalu banyak pemilih yang berdiri dalam antrean panjang selama berjam-jam, di mana terlalu banyak pemilih yang memberikan suara pada mesin yang macet atau rusak atau menyedot suara tanpa jejak, di mana terlalu banyak pemilih yang mencoba mendaftar untuk memberikan suara hanya untuk menemukan bahwa nama mereka tidak muncul di peran, atau bahwa kepentingan politik partisan dan mereka yang melayani mereka telah bekerja keras untuk melemparkan semua penghalang untuk mengakui mereka sebagai sah, di mana terlalu banyak pemilih yang tahu bahwa ada pemilihan yang berbeda untuk berbagai wilayah di negara ini dan bahwa perbedaan-perbedaan ini menjadi memalukan karena perbedaan kekayaan atau ras, di mana terlalu banyak pemilih yang harus berhadapan dengan para pejabat negara, para pelayan masyarakat, yang mengutamakan kepentingan politik partisan atau kepentingan politik pribadi daripada kepentingan publik dalam menyelenggarakan pemilihan umum kita - dalam situasi seperti itu, kita berkewajiban untuk mengatasi masalah tersebut.
Dan saya harus menambahkan bahwa ini bukanlah masalah yang hanya terjadi pada pemilu kali ini, dan ini bukan masalah partisan. Perlu diingat, saya berasal dari Cook County, dari Chicago, di mana terdapat catatan panjang tentang masalah-masalah seperti ini yang terjadi dan merugikan Partai Republik maupun Partai Demokrat. Jadi saya meminta kita semua untuk bangkit dan menggunakan kesempatan ini -
Presiden Senat: Waktu Senator telah habis.
Senator Obama: - untuk memperbaiki masalah ini. Terima kasih.
Translated by Muhammad Erwin Fatahillah
Edited by Bayu Miftahul Huda
Selasa, 26 Maret 2024
This is the article with the title "Asal-usul Kota Malang, dari Malangkucecwara hingga Perlawanan Rakyat pada Sunan Mataram" taken from kompas.com along with a translation in English.
Dukutip dari buku Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe, nama Malang diduga bersumber dari nama bangunana suci yang tertulis di dalam dua prasasti Raja Balitung di Jawa Tengah. Yakni Prasasti Mantyasih tahun 907 dan Prasasti tahun 908 yang ditemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Bangunan suci itu bernama Malangkucecwara, sebuah nama yang terdiri dari tiga kata, yakni 'mala' yang berarti segala sesuatu yag kotor, kecurangan, kepalsuan, atau bathil. Kata kedua adalah "angkuca'' yang berarti menghancurkan atau membinasakan. Sedangkan kara 'icwara' berarti Tuhan. Dengan demikian Malangkucecwara berarti Tuhan menghancurkan yang bathil. Namun hingga kini bangunan suci peninggalana purbakala belum juga ditemukan. Diduga, bangunan tersebut ada di daerah pegunungan di sebelah timur Kota Malang. Ada juga yang menduga keberadaannya di daerah Tumpanh di sebelah utara Kota Malang. Pendapat lain menyebut nama Malang berasal dari masa Kerajaan Mataram. Kala itu ada aksi 'membantah' atau 'menghalang-halangi' yang dalam bahasa Jawa berarti malang. Konon Sunan Mataram ingin memperluas wilayahnya hingga ke Jawa Timur dan ingin menguasai kawasan Malang. Namun penduduk setempat melakukan perlawanan. Mereka menghalang-halangi sehingga terjadilah perang besar. Sunan menganggap usahanya telah dihalang-halangi, rakyat membantah atau malang. Peristiwa tersebut diduga asal-usul nama Kota Malang.
https://regional.kompas.com/read/2021/04/11/082800878/asal-usul-kota-malang-dari-malangkucecwara-hingga-perlawanan-rakyat-pada
But why is it called Malang?
The settlement area dates back to ancient times.
It is said that the precursor to Malang City was a settlement area since ancient times. The abundance of rivers made it suitable for settlement, such as the Dinoyo and Tlogomas areas, which were once prehistoric settlement areas. In Dinoyo, inscriptions, temple buildings, statues, remnants of brick foundations, drainage channels, and various pottery have been found. These relics date back to the late period of the Kanjuruhan Kingdom, which ruled in the 9th century. The Kanjuruhan Kingdom was a pivotal point in the growth of the governmental center in the region until today. After Kanjuruhan, the region experienced its golden age during the Singosari Kingdom.
During the Dutch colonial period.
The Malang area was designated as a Gemante (city) region. Public facilities were planned in such a way as to meet the needs of Dutch families. The discriminatory impression still lingers today, especially in areas like Ijen Boulevard and its surroundings, which were enjoyed only by Dutch and other European families, while the indigenous population lived on the outskirts of the city with inadequate facilities. Malang experienced significant development, especially when the railway line was operated in 1879. The land use underwent rapid changes, transitioning from agricultural to residential and industrial purposes.
Translated by Muhammad Erwin Fatahillah
Edited by Bayu Miftahul Huda
Implications of Culture on Language
The implications of culture on language are profound and multifaceted. Culture shapes the way individuals communicate, influencing vocabular...
-
The implications of culture on language are profound and multifaceted. Culture shapes the way individuals communicate, influencing vocabular...
-
Senate Floor Speech on Ohio Electoral Vote Counting Procedures Thank you very much, Mr. President; Ladies and Gentlemen of the Senate: I h...
-
Asal-usul Kota Malang, dari Malangkucecwara hingga Perlawanan Rakyat pada Sunan Mataram KOMPAS.com - Gempa bermagnitudo 6,7 mengguncang Mala...







.jpg)