Kamis, 20 Juni 2024

Implications of Culture on Language

The implications of culture on language are profound and multifaceted. Culture shapes the way individuals communicate, influencing vocabulary, syntax, idioms, and even the context in which language is used. Understanding the cultural context of a language enhances comprehension and effective communication, fostering deeper connections between speakers from diverse backgrounds. Thus, the interplay between culture and language is dynamic, continuously shaping and reshaping each other.


Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Jumat, 31 Mei 2024

Berikut adalah Artikel Menarik untuk Memperingati dan Mengenal tentang Hari Penerjemah Internasional! Yuk simak selengkapnya...

Sejarah dan Tema Hari Penerjemah Internasional 2023

Bandung - Hari Penerjemah Internasional atau Internasional Translator Day diperingati setiap 30 September. Menjadi sebuah kesempatan untuk menghormati pekerjaan para penerjemah bahasa yang memiliki peran penting dalam mempersatukan seluruh bangsa.

Penerjemah memiliki peran dalam memfasilitasi dialog, pemahaman, dan kerjasama, untuk pembangunan dan memperkuat perdamaian serta keamanan dunia.

Untuk memahami lebih lanjut, berikut tema Hari Penerjemah Internasional 2023 beserta penjelasan, asal-usul peringatan, tujuan, serta fakta unik dari penerjemah.

 

Tema Hari Penerjemah Internasional 2023

Mengutip dari International Federation of Translators, Hari Penerjemah Internasional 2023 mengusung tema "Translation Unveils The Many Faces of Humanity" yang berarti "Terjemahan Mengungkap Banyak Wajah Kemanusiaan". Untuk memperingati Hari Penerjemahan Internasional tahun ini, seluruh dunia ingin mengakui pentingnya peran penerjemah dalam kehidupan.

Penerjemah mampu membuka dunia pengalaman manusia, memberikan kita jalan ke dalam budaya-budaya lain. Ketika terjadi guncangan iklim dan geopolitik di seluruh dunia, maka penerjemah memainkan peran penting dalam mengatasi ancaman terhadap perdamaian dan keamanan, dalam diplomasi dan kerja sama antar negara, pembangunan berkelanjutan, dan bantuan kemanusiaan, martabat manusia dan hak asasi manusia.

 

Apa Itu Penerjemah?

Penerjemah memiliki peran penting dalam mengonversi konten tertulis atau lisan dari satu bahasa ke bahasa lain dengan tetap mempertahankan makna, konteks, dan nuansanya. Mereka menjembatani komunikasi antara individu, organisasi, dan budaya yang menggunakan bahasa berbeda. Bekerja di berbagai bidang, termasuk sastra, bisnis, hukum, medis, teknis, dan konteks diplomatik.

Selain penerjemahan secara langsung, penerjemah memiliki kemampuan untuk menangkap ekspresi idiomatik, bahasa sehari-hari, dan referensi budaya untuk menghasilkan terjemahan yang terasa alami dan relevan secara budaya. Baik penerjemahan literatur, dokumen hukum, komunikasi bisnis, atau konten lainnya. Intinya, penerjemah memiliki fungsi sebagai jembatan pemahaman, memungkinkan komunikasi dan kolaborasi global.

 

Asal-Usul Peringatan

Dipilihnya tanggal 30 September sebagai Hari Penerjemahan Internasional diambil dari perayaan pesta St. Jerome yang merupakan seorang imam dan cendekiawan asal Italia yang berjasa dalam menerjemahkan Alkitab pertama kali.

St. Jerome atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai Santo Hieronimus, memulai perjalanannya untuk menerjemahkan Alkitab dari manuskrip Perjanjian Baru berbahasa Yunani ke dalam bahasa Latin. Dia juga menerjemahkan sejumlah bagian dari Kitab Injil Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Memiliki kemampuan bahasa yang fasih, didapatkan St. Jerome melalui studi dan berbagai perjalanannya.

St. Jerome meninggal pada 30 September 420 di dekat Betlehem. Setelah meninggal ia disebut sebagai Santo pelindung para penerjemah karena upayanya dalam membuat Alkitab dapat diakses oleh banyak orang.

Hari Penerjemah Internasional didelegasikan Federasi Penerjemah Internasional (FIT) sejak didirikan pada tahun 1953. Pada saat itu, para penerjemah kurang diakui dan dihormati secara layak terlepas dari pentingnya peran mereka di era globalisasi. Maka dari itu, FIT muncul untuk memiliki hari khusus dalam rangka menghormati para penerjemah pada tahun 1991.

Kemudian Hari Penerjemah Internasional, disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 24 Mei 2017, menyatakan bahwa perayaan Hari Penerjemah Internasional setiap tahun jatuh pada tanggal 30 September.

 

Fakta Unik dari Penerjemah

Mengutip dari beberapa sumber berikut 5 fakta menarik tentang profesi penerjemah.

1. Ada Kontes Penerjemah Tahunan

Sejak tahun 2005, setiap tahunnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengundang seluruh stafnya yang terakreditasi dan mahasiswa dari universitas mitra terpilih untuk bersaing dalam kontes Terjemahan St. Jerome PBB. Sebuah kontes yang memberikan penghargaan kepada penerjemah terbaik dalam bahasa Arab, China, Inggris, Prancis, Rusia, Spanyol, dan Jerman.

2. Memiliki Peran Penting dalam Berbagai Aspek Pembangunan

Bahasa dengan implikasinya yang kompleks terhadap identitas, komunikasi, integrasi sosial, pendidikan dan pembangunan, memiliki kepentingan strategis bagi manusia. Ada kesadaran yang berkembang bahwa bahasa memainkan peran penting dalam pembangunan dunia.

Bukan hanya memediasi dialog antarbudaya, tetapi juga dalam mencapai pendidikan berkualitas untuk semua dan memperkuat kerja sama. Turut serta juga dalam membangun pengetahuan yang inklusif bagi masyarakat dan melestarikan warisan budaya, hingga dalam memobilisasi kemauan politik untuk menerapkan manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembangunan berkelanjutan.

3. Membangun Suasana Harmonis

Terciptanya komunikasi yang harmonis di antara warga dunia tidak lepas dari peran profesi penerjemah ini. Para ahli multibahasa juga menjadi garda terdepan dalam mempromosikan toleransi, memastikan partisipasi yang efektif dari semua pihak.

4. Paling Besar Bekerja Untuk PBB

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi organisasi yang memiliki profesional bahasa terbesar di dunia. Beberapa ratus staf bahasa bekerja di kantor-kantor PBB di New York, Jenewa, Wina dan Nairobi, atau di komisi regional PBB di Addis Ababa, Bangkok, Beirut, Jenewa dan Santiago.

Penerjemah adalah salah satu jenis profesional bahasa yang dipekerjakan di PBB. Spesialis bahasa PBB ini meliputi asisten editorial dan penerbitan, editor bahasa, interpreter, penulis, editor produksi dan penerbitan, penerjemah, hingga wartawan.

5. Penguasaan Multibahasa

Penerjemah PBB menangani semua jenis dokumen, dari pernyataan oleh negara anggota hingga laporan yang disiapkan oleh badan ahli. Dokumen-dokumen yang mereka terjemahkan mencakup setiap topik dalam agenda PBB, termasuk hak asasi manusia, perdamaian dan keamanan, dan pembangunan.

Masalah baru muncul setiap hari. Dokumen PBB dikeluarkan secara bersamaan dalam enam bahasa resmi Organisasi (Arab, China, Inggris, Prancis, Rusia dan Spanyol). Beberapa dokumen inti juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.

Dokumentasi multibahasa ini dimungkinkan oleh para penerjemah PBB, yang tugasnya adalah menerjemahkan secara jelas dan akurat isi teks asli ke dalam bahasa utama mereka.

 

Source: https://www.detik.com/jabar/berita/d-6954506/sejarah-dan-tema-hari-penerjemah-internasional-2023

By: Daffa Sarja – Detik Jabar

 

The History and Theme of International Translator Day 2023

 

Bandung - International Translator Day is commemorated every 30th of September. It serves as an opportunity to honor the work of language translators who play a crucial role in unifying nations.

Translators facilitate dialogue, understanding, and cooperation for global development and the strengthening of world peace and security.

To delve deeper, here is the theme of International Translator Day 2023 along with its explanation, the origin of the commemoration, objectives, and unique facts about translators.

 

Theme of International Translator Day 2023

Quoting from the International Federation of Translators, the theme for International Translator Day 2023 is "Translation Unveils The Many Faces of Humanity". This theme signifies the importance of translators in our lives.

They have the ability to open up the world of human experiences, providing us with insights into different cultures. Amid climate and geopolitical upheavals worldwide, translators play a crucial role in addressing threats to peace and security, in diplomacy and international cooperation, sustainable development, and humanitarian assistance, human dignity, and human rights.

 

What is a Translator?

A translator plays a crucial role in converting written or spoken content from one language to another while preserving its meaning, context, and nuances. They bridge communication gaps between individuals, organizations, and cultures that speak different languages. Working across various fields including literature, business, law, medicine, technical, and diplomatic contexts.

In addition to direct translation, translators have the ability to capture idiomatic expressions, everyday language, and cultural references to produce translations that feel natural and culturally relevant. Whether it's translating literature, legal documents, business communications, or other content, translators essentially function as bridges of understanding, enabling global communication and collaboration.

 

Origin of the Commemoration

The choice of September 30 as International Translator Day is derived from the celebration of St. Jerome's feast day, who was an Italian priest and scholar credited with the first translation of the Bible.

St. Jerome, also known as Santo Hieronimus in Indonesian, embarked on the journey of translating the Bible from Greek manuscripts of the New Testament into Latin. He also translated several parts of the Hebrew Gospel into Greek. Possessing fluent language skills, St. Jerome acquired through studies and various travels.

St. Jerome passed away on September 30, 420, near Bethlehem. Following his death, he was hailed as the patron saint of translators for his efforts in making the Bible accessible to many.

International Translator Day was delegated by the International Federation of Translators (FIT) since its establishment in 1953. At that time, translators were less recognized and respected despite the significance of their role in the era of globalization. Hence, FIT emerged to designate a special day to honor translators in 1991.

Subsequently, International Translator Day was endorsed by the United Nations General Assembly on May 24, 2017, declaring that the celebration of International Translator Day falls on September 30 each year.

 

Unique Facts about Translators

Citing from various sources, here are 5 interesting facts about the profession of translators:

1. Annual Translator Contest

Since 2005, the United Nations (UN) invites all its accredited staff and students from selected partner universities to compete in the UN St. Jerome Translation Contest annually. This contest awards the best translators in Arabic, Chinese, English, French, Russian, Spanish, and German.

2. Significant Role in Various Development Aspects

Languages, with their complex implications for identity, communication, social integration, education, and development, hold strategic importance for humanity. There is a growing awareness that languages play a crucial role in global development. They not only mediate intercultural dialogue but also in achieving quality education for all and strengthening cooperation. They also participate in building inclusive knowledge for society and preserving cultural heritage, as well as mobilizing political will to apply the benefits of science and technology for sustainable development.

3. Building a Harmonious Atmosphere

The creation of harmonious communication among global citizens is inseparable from the role of this profession. Multilingual experts also play a frontline role in promoting tolerance and ensuring effective participation from all parties.

4. Largest Workforce for the UN

The United Nations (UN) is the organization with the largest language professionals in the world. Several hundred language staff work in UN offices in New York, Geneva, Vienna, and Nairobi, or in UN regional commissions in Addis Ababa, Bangkok, Beirut, Geneva, and Santiago. Translators are one type of language professional employed by the UN. UN language specialists include editorial and publishing assistants, language editors, interpreters, writers, production and publishing editors, translators, and journalists.

5. Multilingual Mastery

UN translators handle all types of documents, from statements by member states to reports prepared by expert bodies. The documents they translate cover every topic on the UN agenda, including human rights, peace and security, and development. New issues arise every day. UN documents are issued simultaneously in the six official languages of the Organization (Arabic, Chinese, English, French, Russian, and Spanish). Some core documents are also translated into German. This multilingual documentation is made possible by UN translators, whose task is to translate the original text clearly and accurately into their main languages.

 

Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda

 

What If the Future of Translation will Involve Collaboration between Humans and Technology? Let's Read the Following Article!

 The Future of Translation is Part Human, Part Machine


Imagine a world where everyone can perfectly understand each other. Language is translated as we speak, and awkward moments of trying to be understood are a thing of the past.

This elusive idea is something that developers have been chasing for years. Free tools like Google Translate – which is used to translate over 100 billion words a day – along with other apps and hardware that claim to translate foreign languages as they are spoken are now available, but something is still missing.

Yes, you can now buy earpiece technology reminiscent of the Hitchiker’s Guide to the Galaxy babel fish – a bit of kit which claims to do a similar job to that of a university-trained, professionally-experienced, multilingual translator – but it’s really not that simple.

Despite the rather interesting claim in 1958 that translation is a Roman invention, it’s likely that it has been around as long as the written word, and interpretation even longer. We have evidence of interpreters being employed by ancient civilisations. Greece and Rome were, like many areas of the ancient world, multilingual, and so needed both translators and interpreters.

The question of how one should translate is just as old. Roman poet Cicero dictated that a translation ought to be “non verbum de verbo, sed sensum exprimere de sensu” – of expressing not word for word, but sense for sense.

This brief trip into the world of theory has one simple purpose: to emphasise that translation is not just about the words, and automating the process of replacing one with another could never be a substitute for human translation. Translation is about the words’ meaning, their connotative as well as their denotative sense, and how to express that meaning in such a way that it is both readable and comprehensible.

 

From meaning to decoding

Why then are we still pursuing this idea that technology could ever begin to adequately translate language? Back in the 1930s, when research into machine translation had just begun, developers still believed that mechanically replacing one word with another, with minimal syntactic reordering at first, would be an acceptable way to translate. And the world still lingers under this impression today.

These developers were brilliant in their own fields but linguists they were not. Warren Weaver, a talented scientist and mathematician, summed up this early thinking in 1949: “One naturally wonders if the problem of translation could conceivably be treated as a problem in cryptography. When I look at an article in Russian, I say: ‘This is really written in English, but it has been coded in some strange symbols. I will now proceed to decode’.”

To Weaver, translation was just about ousting one symbol for another. The actual meaning of these “strange symbols” was deemed irrelevant.

Translators and translation researchers often read how automation may be the future – some already believe it’s already happened, as it has in so many other fields – but we are nowhere near an infallible technology. There are plenty of examples in Wales alone where non-Welsh speaking people have used online translation services, and published before proof-reading. The results are most often reported with humour, but have undoubtedly led to confusion and a human translator stepping in to solve the problem.

But that is not to say that automation doesn’t have its place. Machines, for example, help lawyers, doctors and teachers – they have not replaced them. In the same vein, machines help us translators work better, and can aid accuracy, but unless an incredible technological breakthrough is made, we cannot be replaced by them. Machines have become quite good indeed at translating the text, but when it comes to text-behind-text, they need help.

 

Correcting machines

My own thesis into English to Welsh translation – due to be published later this year – shows that a translator working to correct the output from machine translation makes for higher productivity and quicker translation.

Further research has also found that this correction process leads to texts that are just as acceptable as translations produced from scratch. In societies like Wales where translation is one of the main ways bilingual services are provided, this productivity growth is all-important. Well over 350,000 people speak Welsh every day, while local authorities across the UK are also translating into numerous other languages. It is absolutely vital that they are quickly and effectively understood.

Today, machine translation can create rough drafts of relatively simple language, and research shows that correcting this draft is usually more efficient than translation from scratch by a human. But machines do not now – and it is questionable whether they ever will be able to – replace a translator’s brain. No matter how complex the code behind it, an automated system would struggle to get the same sense of the words.

Source: https://theconversation.com/the-future-of-translation-is-part-human-part-machine-76253

By: Ben Screen - PhD Researcher, Cardiff University

 

Masa Depan Penerjemahan adalah Bagian Manusia, Bagian Mesin

 

Bayangkan sebuah dunia di mana setiap orang dapat saling memahami dengan sempurna. Bahasa diterjemahkan saat kita berbicara, dan momen canggung saat mencoba dipahami menjadi sesuatu dari masa lalu.

Gagasan yang sulit dicapai ini adalah sesuatu yang telah dikejar oleh para pengembang selama bertahun-tahun. Alat gratis seperti Google Translate – yang digunakan untuk menerjemahkan lebih dari 100 miliar kata setiap hari – bersama dengan aplikasi dan perangkat keras lain yang mengklaim dapat menerjemahkan bahasa asing saat diucapkan kini tersedia, tetapi masih ada sesuatu yang kurang.

Ya, sekarang Anda bisa membeli teknologi earphone yang mengingatkan pada babel fish dari Hitchhiker’s Guide to the Galaxy – sebuah perangkat yang mengklaim melakukan pekerjaan serupa dengan penerjemah multibahasa yang terlatih di universitas dan berpengalaman profesional – tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.

Meskipun ada klaim yang cukup menarik pada tahun 1958 bahwa penerjemahan adalah penemuan Romawi, kemungkinan besar penerjemahan sudah ada sejak kata-kata tertulis muncul, dan interpretasi bahkan lebih lama. Kami memiliki bukti bahwa para penerjemah telah dipekerjakan oleh peradaban kuno. Yunani dan Roma, seperti banyak wilayah dunia kuno lainnya, adalah masyarakat multibahasa, sehingga mereka membutuhkan penerjemah dan juru bahasa.

Pertanyaan tentang bagaimana seseorang harus menerjemahkan sama tuanya dengan penerjemahan itu sendiri. Penyair Romawi Cicero menetapkan bahwa penerjemahan seharusnya "non verbum de verbo, sed sensum exprimere de sensu" – yaitu mengekspresikan bukan kata demi kata, tetapi makna demi makna.

Perjalanan singkat ini ke dunia teori memiliki satu tujuan sederhana: untuk menekankan bahwa penerjemahan bukan hanya tentang kata-kata, dan mengotomatiskan proses menggantikan satu kata dengan kata lain tidak akan pernah bisa menjadi pengganti penerjemahan manusia. Penerjemahan adalah tentang makna kata-kata, baik makna konotatif maupun denotatif, dan bagaimana mengekspresikan makna itu sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan dipahami.

 

Dari Makna ke Dekoding

Lalu mengapa kita masih mengejar gagasan bahwa teknologi dapat secara memadai menerjemahkan bahasa? Pada tahun 1930-an, ketika penelitian tentang penerjemahan mesin baru dimulai, para pengembang masih percaya bahwa mengganti satu kata dengan kata lain secara mekanis, dengan sedikit penyusunan ulang sintaksis pada awalnya, akan menjadi cara yang dapat diterima untuk menerjemahkan. Dan dunia masih berada di bawah kesan ini hingga hari ini.

Para pengembang ini sangat cerdas di bidang mereka masing-masing, tetapi mereka bukanlah ahli bahasa. Warren Weaver, seorang ilmuwan dan matematikawan berbakat, merangkum pemikiran awal ini pada tahun 1949: “Seseorang secara alami bertanya-tanya apakah masalah penerjemahan dapat dianggap sebagai masalah dalam kriptografi. Ketika saya melihat sebuah artikel dalam bahasa Rusia, saya berkata: 'Ini sebenarnya ditulis dalam bahasa Inggris, tetapi telah dikodekan dalam beberapa simbol aneh. Sekarang saya akan melanjutkan untuk mendekode.'”

Bagi Weaver, penerjemahan hanya tentang mengganti satu simbol dengan simbol lain. Makna sebenarnya dari “simbol aneh” ini dianggap tidak relevan.

Penerjemah dan peneliti penerjemahan sering membaca bahwa otomatisasi mungkin menjadi masa depan – beberapa sudah percaya bahwa itu telah terjadi, seperti dalam banyak bidang lainnya – tetapi kita masih jauh dari teknologi yang tak dapat salah. Ada banyak contoh di Wales saja di mana orang yang tidak berbicara bahasa Wales menggunakan layanan terjemahan online, dan menerbitkan sebelum memeriksa. Hasilnya sering dilaporkan dengan humor, tetapi tidak diragukan lagi menyebabkan kebingungan dan penerjemah manusia turun tangan untuk menyelesaikan masalah.

Namun itu bukan berarti otomatisasi tidak memiliki tempatnya. Mesin, misalnya, membantu pengacara, dokter, dan guru – mereka tidak menggantikannya. Dalam hal yang sama, mesin membantu kita, para penerjemah, bekerja lebih baik, dan dapat membantu ketepatan, tetapi kecuali ada terobosan teknologi yang luar biasa, kita tidak dapat digantikan oleh mereka. Mesin memang menjadi cukup baik dalam menerjemahkan teks, tetapi ketika datang pada makna di balik teks, mereka masih membutuhkan bantuan.

 

Menyempurnakan Mesin

Penelitian saya sendiri tentang terjemahan dari bahasa Inggris ke Wales – yang akan diterbitkan nanti tahun ini – menunjukkan bahwa seorang penerjemah yang bekerja untuk memperbaiki hasil dari terjemahan mesin meningkatkan produktivitas dan mempercepat proses terjemahan.

Penelitian lebih lanjut juga menemukan bahwa proses koreksi ini menghasilkan teks yang sama dapat diterima dengan terjemahan yang dibuat dari awal. Di masyarakat seperti Wales di mana terjemahan adalah salah satu cara utama penyediaan layanan dwibahasa, pertumbuhan produktivitas ini sangat penting. Lebih dari 350.000 orang berbicara dalam bahasa Wales setiap hari, sementara otoritas lokal di seluruh Inggris juga menerjemahkan ke berbagai bahasa lainnya. Sangat penting bahwa informasi tersebut dipahami dengan cepat dan efektif.

Saat ini, mesin terjemahan dapat membuat draf kasar dari bahasa yang relatif sederhana, dan penelitian menunjukkan bahwa mengoreksi draf ini biasanya lebih efisien daripada menerjemahkan dari awal oleh manusia. Tetapi mesin tidak sekarang – dan dipertanyakan apakah mereka akan pernah mampu – menggantikan otak seorang penerjemah. Terlepas dari seberapa kompleks kode di baliknya, sebuah sistem otomatis akan kesulitan untuk mendapatkan makna yang sama dari kata-kata.


Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda


Jumat, 17 Mei 2024

Molly Wright: How every child can thrive by five

"How Every Child Can Thrive by Five" is a transformative guide that highlights the crucial early years of a child's development. This video provides parents, educators, and caregivers with practical, evidence-based strategies to nurture a child's cognitive, emotional, and social growth during the first five years. By following these simple yet impactful practices, you can help lay a strong foundation for your child's future success.

Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Selasa, 14 Mei 2024

What If a Simple Blood Test Could Detect Cancer?

Have you ever imagined if a simple blood test could detect cancer early? In this video, we explore the latest advancements in the medical field that make this possible. Learn how this technology works, its benefits, and its impact on cancer detection and treatment. Don't miss out on this fascinating information that could change the future of our health!


Translated  by Muhammad Erwin Fatahillah

Jumat, 26 April 2024

This is the article with the title "Urban Legend: Cerita Pesarean Gunung Kawi Tempat Bersemayamnya Cicit Pakubuwono I" taken from detikjatim.com along with a translation in English.

 Urban Legend

Cerita Pesarean Gunung Kawi Tempat Bersemayamnya Cicit Pakubuwono I



Malang - Pesarean Gunung Kawi menjadi obyek wisata religi dan budaya di Kabupaten Malang. Letaknya di sebelah selatan lereng Gunung Kawi, tepatnya di Jalan Pesarean, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

Di dalam area pesarean, terdapat makam dua tokoh yang melegenda bagi masyarakat Jawa maupun masyarakat Tionghoa, yaitu Eyang Njoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono.

Kedua tokoh ini mempunyai kharisma yang hingga kini dikenang dan didoakan oleh masyarakat dari berbagai etnis.

Eyang Njoego atau Kiai Zakaria II adalah cicit dari Susuhunan Paku Buwono I yang memerintah Keraton Mataram dari tahun 1705 sampai dengan 1719. Ayah dari Kiai Zakaria II merupakan ulama besar di lingkungan keraton saat itu.

Eyang Njoego dan putra angkatnya Raden Mas Iman Soedjono merupakan laskar dalam perang Diponegoro. Seperti para pejuang lain di masa kolonial waktu itu.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Kiai Zakaria II berganti nama Eyang Sadjoego atau disingkat Eyang Njoego. Tujuannya, untuk menyamar sebagai rakyat biasa, untuk menghindari kejaran Belanda.

Dalam berkelana, Eyang Njoego kemudian berhenti dan mendirikan padepokan di Desa Jugo, Kecamatan Sanan, Kabupaten Blitar. Setelah wafat, jenazah Eyang Njeogo dibawa ke Wonosari, Kabupaten Malang. Konon, itu merupakan wasiat dari Eyang Njoego kepada pengikutnya.

"Eyang Njoego meninggal pada Senin Pahing tanggal 22 Januari 1871 di padepokannya. Jenazahnya kemudian dibawa dan dimakamkan di Desa Wonosari pada Rabu Wage 24 Januari 1871," terang juru bicara Yayasan Ngesti Gondo pengelola pesarean Gunung Kawi, Alie Zainal Abidin kepada detikJatim, Kamis (26/10/2023).

Pemakaman jenazah Eyang Njoego digelar secara Islam yang dipimpin oleh Raden Mas Iman Soedjono, pada Kamis Kliwon, 25 Januari 1871. Lalu, tahlil akbar digelar pada malam harinya.

Hal ini kemudian menjadi gelaran rutin di pesarean Gunung Kawi untuk menggelar upacara di malam Jumat Legi, selain Senin Pahing menandai hari wafatnya Eyang Njoego.

Selang lima tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1876, Raden Mas Iman Soedjono wafat dan kemudian dimakamkan di sebelah makam Eyang Njoego.

Alie Zainal Abidin mengatakan, Eyang Raden Mas Iman Soedjono merupakan cicit dari Sultan Hamengku Buwono I. Raden Mas Iman Soedjono menikah dengan anggota Laskar Langen Koesoemo yakni Raden Ayi Saminah.

Pasangan ini dikaruniai satu putri bernama Raden Ayu Demes. Keturunan dari Raden Ayu Demes ini lah yang sampai hari ini menjaga pesarean Gunung Kawi. Yakni sebagai juru kunci dan anggota dari Yayasan Ngesti Gondo sebagai pengelola pesarean Gunung Kawi.

"Hingga saat ini, pesarean Gunung Kawi dijaga dan dikelola oleh keturunan dari Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Jika ditelusuri hingga akar silsilahnya, ahli waris dan juru kunci masih mempunyai ikatan darah dengan kerabat Keraton Ngayogyakarta," terang Alie Zainal.

Menurut Alie, sebagai tempat ziarah serta wisata budaya dan sejarah. Pesarean Gunung Kawi selalu berusaha untuk memberikan fasilitas memadai untuk mengakomodasi kebutuhan ziarah pengunjung pesarean.

Selain pendopo dan masjid, lanjut Alie, terdapat juga tempat berdoa Kwan Im dan Tie Kong.

"Pengunjung juga dapat menikmati makanan khas Gunung Kawi, belanja souvenir serta tempat penginapan di dalam dan seputar area pesarean," ujarnya.

Setiap tahunnya, pesarean Gunung Kawi memperingati haul Eyang Njoego dan haul Eyang Raden Mas Iman Soedjono, dengan adat kejawen yang diikuti seluruh anggota yayasan serta masyarakat sekitar.


https://www.detik.com/jatim/wisata/d-7003034/cerita-pesarean-gunung-kawi-tempat-bersemayamnya-cicit-pakubuwono-i


Urban Legend

The story of Gunung Kawi Cemetery where the great-grandson of Pakubuwono I resides


Malang - Pesarean Gunung Kawi is a religious and cultural tourist attraction in Malang Regency. It is located on the southern slope of Mount Kawi, precisely on Pesarean Street, Wonosari District, Malang Regency.

In the area, there are the graves of two legendary figures for the Javanese and Chinese communities, namely Eyang Njoego and Eyang Raden Mas Iman Soedjono.

Both of these figures have charisma that until now is remembered and prayed for by people of various ethnicities.

Eyang Njoego or Kiai Zakaria II was the great-grandson of Susuhunan Paku Buwono I who ruled the Mataram Palace from 1705 to 1719. The father of Kiai Zakaria II was a great scholar in the palace at that time.

Eyang Njoego and his adopted son Raden Mas Iman Soedjono were soldiers in the Diponegoro war. Like other fighters in the colonial period at that time.

After Prince Diponegoro was captured by the Dutch, Kiai Zakaria II changed his name to Eyang Sadjoego or Eyang Njoego for short. The aim was to disguise himself as an ordinary person, to avoid the pursuit of the Dutch.

While traveling, Eyang Njoego stopped and established a hermitage in Jugo Village, Sanan District, Blitar Regency. After his death, Eyang Njeogo's body was brought to Wonosari, Malang Regency. It is said that this was the will of Eyang Njoego to his followers.

"Eyang Njoego died on Monday Pahing, January 22, 1871 in his hermitage. His body was then brought and buried in Wonosari Village on Wednesday Wage January 24, 1871," explained a spokesman for the Ngesti Gondo Foundation, which manages the Gunung Kawi cemetery, Alie Zainal Abidin to detikJatim, Thursday (26/10/2023).

The funeral of Eyang Njoego's body was held in an Islamic manner led by Raden Mas Iman Soedjono, on Thursday Kliwon, January 25, 1871. Then, a grand tahlil was held in the evening.

This then became a routine event in the Gunung Kawi cemetery to hold a ceremony on Friday Legi night, in addition to Monday Pahing marking the day of Eyang Njoego's death.

Five years later or precisely in 1876, Raden Mas Iman Soedjono died and was then buried next to the grave of Eyang Njoego.

Alie Zainal Abidin said that Eyang Raden Mas Iman Soedjono was the great-grandson of Sultan Hamengku Buwono I. Raden Mas Iman Soedjono married a member of Laskar Langen Koesoemo, Raden Ayi Saminah.

The couple had one daughter named Raden Ayu Demes. The descendants of Raden Ayu Demes are the ones who guard the Gunung Kawi cemetery to this day. Namely as caretakers and members of the Ngesti Gondo Foundation as the manager of the Gunung Kawi cemetery.

"To this day, the Gunung Kawi cemetery is guarded and managed by the descendants of Eyang Raden Mas Iman Soedjono. If traced to its genealogical roots, the heirs and caretakers still have blood ties with relatives of the Ngayogyakarta Palace," explained Alie Zainal.

According to Alie, as a place of pilgrimage and cultural and historical tourism. Pesarean Gunung Kawi always tries to provide adequate facilities to accommodate the needs of pilgrimage visitors.

In addition to the pavilion and mosque, Alie continued, there are also places to pray for Kwan Im and Tie Kong.

"Visitors can also enjoy Gunung Kawi specialties, souvenir shopping and lodging in and around the area," he said.

Every year, the Gunung Kawi cemetery commemorates the haul of Eyang Njoego and the haul of Eyang Raden Mas Iman Soedjono, with kejawen customs followed by all members of the foundation and the surrounding community.



Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda

Rabu, 03 April 2024

This is the article with the title "Senate Floor Speech on Ohio Electoral Vote Counting Procedures" taken from americanhetoric.com along with a translation in Indonesia.

 Senate Floor Speech on Ohio Electoral Vote Counting Procedures

Thank you very much, Mr. President; Ladies and Gentlemen of the Senate:

I have to say that I didn't anticipate speaking today, but the importance, I think, of this issue is one in which I feel it's important for me to address this body.

You know, during the election I had the occasion of meeting a woman who had supported me in my campaign. And she decided to come to shake my hand and take a photograph. A wonderful woman, she wasn't asking for anything, and I was very grateful that she took time to come by. It was a[n] unexceptional moment except for the fact that she was born in 1894. And her name was Marguerite Lewis, an African-American woman who had been born in Louisiana, born in the shadow of slavery, born at a time when lynchings were commonplace, born at a time when African-Americans and women could not vote.

And yet, over the course of decades she had participated in broadening our democracy and ensuring that, in fact, at some point, if not herself, then her children and her grandchildren and her great-grandchildren would be in a position in which they could, too, call themselves citizens of the United States and make certain that this Government works not just on behalf of the mighty and the powerful but also on behalf of people like her.

And so the fact that she voted and that her vote was counted in this election was of supreme importance to her and it is the memory of talking to her and shaking her hand that causes me to rise on this occasion.

I am absolutely convinced that the President of the United States, George Bush, won this election. I also believe that he got more votes in Ohio. I think, as has already been said by some of the speakers in this body, he is not some -- this is not an issue in which we are challenging the outcome of the election. And I think it's important for us to separate out the issue of the election outcome with the election process.

I was not in this body four years ago, but what I observed as a voter, as a citizen of Illinois four years ago, were troubling evidence of the fact that not every vote was being counted. And I think that it is unfortunate four years later that we continue to see circumstances in which people who believe that they have the right to vote -- who show up at the polls -- still continue to confront the sort of problems that have been documented as taking place, not just in Ohio, but [in] places all across the country.

I would strongly urge that this Chamber, as well as the House of Representatives, take it upon itself once and for all to reform this system. There is no reason, at a time when we have enormous battles taking place ideologically all across the globe, at a time when we're try to make certain that we encourage democracy in Iraq and Afghanistan and other places throughout the world, that we have the legitimacy of our elections challenged, rightly or wrongly, by people who are not certain as to whether our processes are fair and just. This is something that we can fix. We have experts on both sides of the aisle who know how to fix it. What we've lacked is the political will.

I would strongly urge that, in a circumstance in which too many voters have stood in long lines for hours, in which too many voters have cast votes on machines that jam or malfunction or suck the votes without a trace, in which too many voters try to register to vote only to discover that their names don't appear on the roles, or that partisan political interests and those that serve them have worked hard to throw up every barrier to recognize them as lawful, in which too many voters will know that there are different elections for different parts of the country and that these differences turn shamefully on differences of wealth or of race, in which too many voters have to contend with state officials, servants of the public, who put partisan or personal political interests ahead of the public in administering our elections -- in such circumstances, we have an obligation to fix the problem.

And I have to add that this is not a problem unique to this election, and it is not a partisan problem. Keep in mind, I come from Cook County, from Chicago, in which there is a long record of these kinds of problems taking place and disadvantaging Republicans as well as Democrats. So I would ask that all of us rise up and use this occasion --

Senate President: Senator's time has expired.
Senator Obama: -- to amend this problem. Thank you.

https://www.americanrhetoric.com/speeches/barackobama/barackobamasenatespeechonohioelectoralvotes.htm


Pidato di Senat tentang Prosedur Penghitungan Suara Pemilihan Ohio

Terima kasih banyak, Bapak Presiden; Hadirin sekalian yang terhormat di Senat: Saya harus mengatakan bahwa saya tidak mengantisipasi untuk berbicara hari ini, tetapi saya pikir, pentingnya masalah ini adalah salah satu yang saya rasa penting bagi saya untuk berbicara di hadapan badan ini. Anda tahu, selama pemilu saya berkesempatan bertemu dengan seorang wanita yang telah mendukung saya dalam kampanye. Dan dia memutuskan untuk datang untuk menjabat tangan saya dan berfoto bersama. Seorang wanita yang luar biasa, dia tidak meminta apa pun, dan saya sangat berterima kasih karena dia menyempatkan diri untuk datang. Itu adalah momen yang luar biasa kecuali fakta bahwa dia lahir pada tahun 1894. Namanya Marguerite Lewis, seorang wanita Afrika-Amerika yang lahir di Louisiana, lahir di bawah bayang-bayang perbudakan, lahir di masa ketika hukuman mati merupakan hal yang lumrah, lahir di masa ketika orang Afrika-Amerika dan wanita tidak dapat memberikan suara. Namun, selama beberapa dekade ia telah berpartisipasi dalam memperluas demokrasi kita dan memastikan bahwa, pada kenyataannya, pada suatu saat nanti, jika bukan dirinya sendiri, maka anak-anaknya, cucu-cucunya, dan cicit-cicitnya akan berada dalam posisi di mana mereka juga dapat menyebut diri mereka sebagai warga negara Amerika Serikat dan memastikan bahwa Pemerintah ini bekerja tidak hanya atas nama yang berkuasa dan berkuasa, namun juga atas nama orang-orang seperti dirinya. Jadi, fakta bahwa dia memberikan suara dan suaranya dihitung dalam pemilihan ini merupakan hal yang sangat penting baginya dan kenangan saat berbicara dengannya dan menjabat tangannya itulah yang membuat saya berdiri pada kesempatan ini. Saya sangat yakin bahwa Presiden Amerika Serikat, George Bush, memenangkan pemilihan ini. Saya juga yakin bahwa dia mendapatkan lebih banyak suara di Ohio. Saya pikir, seperti yang telah dikatakan oleh beberapa pembicara di badan ini, dia bukan orang - ini bukan masalah di mana kita menantang hasil pemilu. Dan saya pikir penting bagi kita untuk memisahkan masalah hasil pemilu dengan proses pemilu. Saya tidak berada di badan ini empat tahun yang lalu, namun apa yang saya amati sebagai pemilih, sebagai warga negara Illinois empat tahun yang lalu, adalah bukti-bukti yang mengganggu tentang fakta bahwa tidak semua suara dihitung. Dan saya pikir sangat disayangkan bahwa empat tahun kemudian kita terus melihat situasi di mana orang-orang yang percaya bahwa mereka memiliki hak untuk memilih - yang datang ke tempat pemungutan suara - masih terus menghadapi masalah seperti yang telah didokumentasikan sebagai hal yang terjadi, tidak hanya di Ohio, tetapi juga di berbagai tempat di seluruh negeri. Saya akan sangat mendesak agar Dewan Perwakilan Rakyat, serta Dewan Perwakilan Rakyat, untuk segera mereformasi sistem ini. Tidak ada alasan, pada saat kita menghadapi pertempuran besar yang terjadi secara ideologis di seluruh dunia, pada saat kita berusaha memastikan bahwa kita mendorong demokrasi di Irak dan Afghanistan serta tempat-tempat lain di seluruh dunia, legitimasi pemilihan umum kita ditentang, benar atau salah, oleh orang-orang yang tidak yakin bahwa proses pemilihan umum yang kita jalankan sudah jujur dan adil. Ini adalah sesuatu yang dapat kita perbaiki. Kita memiliki para ahli di kedua sisi yang tahu bagaimana cara memperbaikinya. Yang kurang dari kita adalah kemauan politik. Saya akan sangat mendesak bahwa, dalam situasi di mana terlalu banyak pemilih yang berdiri dalam antrean panjang selama berjam-jam, di mana terlalu banyak pemilih yang memberikan suara pada mesin yang macet atau rusak atau menyedot suara tanpa jejak, di mana terlalu banyak pemilih yang mencoba mendaftar untuk memberikan suara hanya untuk menemukan bahwa nama mereka tidak muncul di peran, atau bahwa kepentingan politik partisan dan mereka yang melayani mereka telah bekerja keras untuk melemparkan semua penghalang untuk mengakui mereka sebagai sah, di mana terlalu banyak pemilih yang tahu bahwa ada pemilihan yang berbeda untuk berbagai wilayah di negara ini dan bahwa perbedaan-perbedaan ini menjadi memalukan karena perbedaan kekayaan atau ras, di mana terlalu banyak pemilih yang harus berhadapan dengan para pejabat negara, para pelayan masyarakat, yang mengutamakan kepentingan politik partisan atau kepentingan politik pribadi daripada kepentingan publik dalam menyelenggarakan pemilihan umum kita - dalam situasi seperti itu, kita berkewajiban untuk mengatasi masalah tersebut. Dan saya harus menambahkan bahwa ini bukanlah masalah yang hanya terjadi pada pemilu kali ini, dan ini bukan masalah partisan. Perlu diingat, saya berasal dari Cook County, dari Chicago, di mana terdapat catatan panjang tentang masalah-masalah seperti ini yang terjadi dan merugikan Partai Republik maupun Partai Demokrat. Jadi saya meminta kita semua untuk bangkit dan menggunakan kesempatan ini - Presiden Senat: Waktu Senator telah habis. Senator Obama: - untuk memperbaiki masalah ini. Terima kasih.

Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda

Selasa, 26 Maret 2024

This is the article with the title "Asal-usul Kota Malang, dari Malangkucecwara hingga Perlawanan Rakyat pada Sunan Mataram" taken from kompas.com along with a translation in English.

Asal-usul Kota Malang, dari Malangkucecwara hingga Perlawanan Rakyat pada Sunan Mataram


KOMPAS.com - Gempa bermagnitudo 6,7 mengguncang Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya pada Sabtu (10/4/2021) sekitar pukul 14.00 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, pusat gempa berada di 90 kilometer barat daya Kabupaten Malang. Pusat gempa yang berada di lepas pantai memiliki kedalaman 25 kilometer. Menurut BMKG, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Malang adalah kota besar dan memiliki peran penting di Provinsi Jawa Tmur. Berada di dataran tinggi yang cukup sejuk. Brada di sebelah selatan Kota Surabaya. Malang juga menjadi kota terbesar nomor dua setelah Surabaya.

Mengapa disebut Malang?

Dukutip dari buku Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe, nama Malang diduga bersumber dari nama bangunana suci yang tertulis di dalam dua prasasti Raja Balitung di Jawa Tengah. Yakni Prasasti Mantyasih tahun 907 dan Prasasti tahun 908 yang ditemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Bangunan suci itu bernama Malangkucecwara, sebuah nama yang terdiri dari tiga kata, yakni 'mala' yang berarti segala sesuatu yag kotor, kecurangan, kepalsuan, atau bathil. Kata kedua adalah "angkuca'' yang berarti menghancurkan atau membinasakan. Sedangkan kara 'icwara' berarti Tuhan. Dengan demikian Malangkucecwara berarti Tuhan menghancurkan yang bathil. Namun hingga kini bangunan suci peninggalana purbakala belum juga ditemukan. Diduga, bangunan tersebut ada di daerah pegunungan di sebelah timur Kota Malang. Ada juga yang menduga keberadaannya di daerah Tumpanh di sebelah utara Kota Malang. Pendapat lain menyebut nama Malang berasal dari masa Kerajaan Mataram. Kala itu ada aksi 'membantah' atau 'menghalang-halangi' yang dalam bahasa Jawa berarti malang. Konon Sunan Mataram ingin memperluas wilayahnya hingga ke Jawa Timur dan ingin menguasai kawasan Malang. Namun penduduk setempat melakukan perlawanan. Mereka menghalang-halangi sehingga terjadilah perang besar. Sunan menganggap usahanya telah dihalang-halangi, rakyat membantah atau malang. Peristiwa tersebut diduga asal-usul nama Kota Malang.

Kawasan pemukiman sejak masa purbakala

Disebutkan cikal bakal Kota Malang adalah kwasan pemukiman sejak masa purbakala. Banyaknya sungai yang mengalir membuatnya cocok untuk kawasan pemukiman. Seperti kawasan Dinoyo dn Tlogomas yang pernah menjadi kawasan pemukiman prasejarah. Di Dinoyo ditemukan prasasti, bangunan percandian, dan arca-arca, bekas pondasi batu bata, bekas saluran drinase, serta berbagai gerabah. Peninggalan tersebut ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan yang berkuasa pada abad ke-9 dan abad ke-9. Kerajaan Kanjuruhan adalah tonggak pertumbuhan pusat pemerintaha di kawasan tersebut hingga hari ini. Setelah Kanjuruhan, masa emas juga dialami wilayah tersebut di masa Kerajaan Singosari. 

Malang di Masa Kolonial Belanda

Pada masa penjajahan kolonial Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah Gemante (kota). Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang. Seperti Ijen Boullevard dan kawasan sekitarnya. Kawasan tersebut hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda da Bangsa Eropa lainnya. Sementara penduduk asli tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kota Malang berkembang terutama saat dioperasikan jalur kereta api pada tahun 1879. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

https://regional.kompas.com/read/2021/04/11/082800878/asal-usul-kota-malang-dari-malangkucecwara-hingga-perlawanan-rakyat-pada


The Origins of Malang City, from Malangkucecwara to the People's Resistance during the Sunan Matara Era


KOMPAS.com - A magnitude 6.7 earthquake struck Malang, East Java, and its surrounding areas on Saturday (4/10/2021) around 14.00 WIB (Western Indonesian Time). The Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) stated that the epicenter of the earthquake was located 90 kilometers southwest of Malang Regency. The earthquake's offshore epicenter had a depth of 25 kilometers. According to the BMKG, this earthquake was not expected to generate a tsunami. Malang is a major city with significant importance in East Java Province. It is situated in a relatively cool highland area and lies south of Surabaya. Malang is the second-largest city after Surabaya.

But why is it called Malang?

According to the book "The Origins of Cities in Tempo Doeloe Indonesia," the name Malang is believed to originate from the name of a sacred building mentioned in two inscriptions of King Balitung in Central Java. These are the Mantyasih Inscription from 907 and the inscription from 908 found in a location between Surabaya and Malang. The sacred building was called Malangkucecwara, consisting of three words: 'mala', meaning everything that is dirty, dishonest, false, or futile; 'angkuca', meaning to destroy or annihilate; and 'icwara', meaning God. Thus, Malangkucecwara means God destroys the futile. However, the ancient sacred building has not yet been found, although it is suspected to be in the mountainous areas east of Malang or in the Tumpang area north of Malang. Another theory suggests that the name Malang originated during the Mataram Kingdom era. At that time, there was resistance or obstruction ('membantah' or 'menghalang-halangi' in Javanese) during Sunan Mataram's attempt to expand his territory to East Java and control the Malang region. The local residents resisted, causing a significant war. Sunan Mataram perceived his efforts as being obstructed, hence the term 'bantah' or 'malang' by the people. This event is believed to be the origin of the name Malang.

The settlement area dates back to ancient times.

It is said that the precursor to Malang City was a settlement area since ancient times. The abundance of rivers made it suitable for settlement, such as the Dinoyo and Tlogomas areas, which were once prehistoric settlement areas. In Dinoyo, inscriptions, temple buildings, statues, remnants of brick foundations, drainage channels, and various pottery have been found. These relics date back to the late period of the Kanjuruhan Kingdom, which ruled in the 9th century. The Kanjuruhan Kingdom was a pivotal point in the growth of the governmental center in the region until today. After Kanjuruhan, the region experienced its golden age during the Singosari Kingdom.

During the Dutch colonial period.

The Malang area was designated as a Gemante (city) region. Public facilities were planned in such a way as to meet the needs of Dutch families. The discriminatory impression still lingers today, especially in areas like Ijen Boulevard and its surroundings, which were enjoyed only by Dutch and other European families, while the indigenous population lived on the outskirts of the city with inadequate facilities. Malang experienced significant development, especially when the railway line was operated in 1879. The land use underwent rapid changes, transitioning from agricultural to residential and industrial purposes.


Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda

Implications of Culture on Language

The implications of culture on language are profound and multifaceted. Culture shapes the way individuals communicate, influencing vocabular...