Jumat, 31 Mei 2024

What If the Future of Translation will Involve Collaboration between Humans and Technology? Let's Read the Following Article!

 The Future of Translation is Part Human, Part Machine


Imagine a world where everyone can perfectly understand each other. Language is translated as we speak, and awkward moments of trying to be understood are a thing of the past.

This elusive idea is something that developers have been chasing for years. Free tools like Google Translate – which is used to translate over 100 billion words a day – along with other apps and hardware that claim to translate foreign languages as they are spoken are now available, but something is still missing.

Yes, you can now buy earpiece technology reminiscent of the Hitchiker’s Guide to the Galaxy babel fish – a bit of kit which claims to do a similar job to that of a university-trained, professionally-experienced, multilingual translator – but it’s really not that simple.

Despite the rather interesting claim in 1958 that translation is a Roman invention, it’s likely that it has been around as long as the written word, and interpretation even longer. We have evidence of interpreters being employed by ancient civilisations. Greece and Rome were, like many areas of the ancient world, multilingual, and so needed both translators and interpreters.

The question of how one should translate is just as old. Roman poet Cicero dictated that a translation ought to be “non verbum de verbo, sed sensum exprimere de sensu” – of expressing not word for word, but sense for sense.

This brief trip into the world of theory has one simple purpose: to emphasise that translation is not just about the words, and automating the process of replacing one with another could never be a substitute for human translation. Translation is about the words’ meaning, their connotative as well as their denotative sense, and how to express that meaning in such a way that it is both readable and comprehensible.

 

From meaning to decoding

Why then are we still pursuing this idea that technology could ever begin to adequately translate language? Back in the 1930s, when research into machine translation had just begun, developers still believed that mechanically replacing one word with another, with minimal syntactic reordering at first, would be an acceptable way to translate. And the world still lingers under this impression today.

These developers were brilliant in their own fields but linguists they were not. Warren Weaver, a talented scientist and mathematician, summed up this early thinking in 1949: “One naturally wonders if the problem of translation could conceivably be treated as a problem in cryptography. When I look at an article in Russian, I say: ‘This is really written in English, but it has been coded in some strange symbols. I will now proceed to decode’.”

To Weaver, translation was just about ousting one symbol for another. The actual meaning of these “strange symbols” was deemed irrelevant.

Translators and translation researchers often read how automation may be the future – some already believe it’s already happened, as it has in so many other fields – but we are nowhere near an infallible technology. There are plenty of examples in Wales alone where non-Welsh speaking people have used online translation services, and published before proof-reading. The results are most often reported with humour, but have undoubtedly led to confusion and a human translator stepping in to solve the problem.

But that is not to say that automation doesn’t have its place. Machines, for example, help lawyers, doctors and teachers – they have not replaced them. In the same vein, machines help us translators work better, and can aid accuracy, but unless an incredible technological breakthrough is made, we cannot be replaced by them. Machines have become quite good indeed at translating the text, but when it comes to text-behind-text, they need help.

 

Correcting machines

My own thesis into English to Welsh translation – due to be published later this year – shows that a translator working to correct the output from machine translation makes for higher productivity and quicker translation.

Further research has also found that this correction process leads to texts that are just as acceptable as translations produced from scratch. In societies like Wales where translation is one of the main ways bilingual services are provided, this productivity growth is all-important. Well over 350,000 people speak Welsh every day, while local authorities across the UK are also translating into numerous other languages. It is absolutely vital that they are quickly and effectively understood.

Today, machine translation can create rough drafts of relatively simple language, and research shows that correcting this draft is usually more efficient than translation from scratch by a human. But machines do not now – and it is questionable whether they ever will be able to – replace a translator’s brain. No matter how complex the code behind it, an automated system would struggle to get the same sense of the words.

Source: https://theconversation.com/the-future-of-translation-is-part-human-part-machine-76253

By: Ben Screen - PhD Researcher, Cardiff University

 

Masa Depan Penerjemahan adalah Bagian Manusia, Bagian Mesin

 

Bayangkan sebuah dunia di mana setiap orang dapat saling memahami dengan sempurna. Bahasa diterjemahkan saat kita berbicara, dan momen canggung saat mencoba dipahami menjadi sesuatu dari masa lalu.

Gagasan yang sulit dicapai ini adalah sesuatu yang telah dikejar oleh para pengembang selama bertahun-tahun. Alat gratis seperti Google Translate – yang digunakan untuk menerjemahkan lebih dari 100 miliar kata setiap hari – bersama dengan aplikasi dan perangkat keras lain yang mengklaim dapat menerjemahkan bahasa asing saat diucapkan kini tersedia, tetapi masih ada sesuatu yang kurang.

Ya, sekarang Anda bisa membeli teknologi earphone yang mengingatkan pada babel fish dari Hitchhiker’s Guide to the Galaxy – sebuah perangkat yang mengklaim melakukan pekerjaan serupa dengan penerjemah multibahasa yang terlatih di universitas dan berpengalaman profesional – tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.

Meskipun ada klaim yang cukup menarik pada tahun 1958 bahwa penerjemahan adalah penemuan Romawi, kemungkinan besar penerjemahan sudah ada sejak kata-kata tertulis muncul, dan interpretasi bahkan lebih lama. Kami memiliki bukti bahwa para penerjemah telah dipekerjakan oleh peradaban kuno. Yunani dan Roma, seperti banyak wilayah dunia kuno lainnya, adalah masyarakat multibahasa, sehingga mereka membutuhkan penerjemah dan juru bahasa.

Pertanyaan tentang bagaimana seseorang harus menerjemahkan sama tuanya dengan penerjemahan itu sendiri. Penyair Romawi Cicero menetapkan bahwa penerjemahan seharusnya "non verbum de verbo, sed sensum exprimere de sensu" – yaitu mengekspresikan bukan kata demi kata, tetapi makna demi makna.

Perjalanan singkat ini ke dunia teori memiliki satu tujuan sederhana: untuk menekankan bahwa penerjemahan bukan hanya tentang kata-kata, dan mengotomatiskan proses menggantikan satu kata dengan kata lain tidak akan pernah bisa menjadi pengganti penerjemahan manusia. Penerjemahan adalah tentang makna kata-kata, baik makna konotatif maupun denotatif, dan bagaimana mengekspresikan makna itu sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan dipahami.

 

Dari Makna ke Dekoding

Lalu mengapa kita masih mengejar gagasan bahwa teknologi dapat secara memadai menerjemahkan bahasa? Pada tahun 1930-an, ketika penelitian tentang penerjemahan mesin baru dimulai, para pengembang masih percaya bahwa mengganti satu kata dengan kata lain secara mekanis, dengan sedikit penyusunan ulang sintaksis pada awalnya, akan menjadi cara yang dapat diterima untuk menerjemahkan. Dan dunia masih berada di bawah kesan ini hingga hari ini.

Para pengembang ini sangat cerdas di bidang mereka masing-masing, tetapi mereka bukanlah ahli bahasa. Warren Weaver, seorang ilmuwan dan matematikawan berbakat, merangkum pemikiran awal ini pada tahun 1949: “Seseorang secara alami bertanya-tanya apakah masalah penerjemahan dapat dianggap sebagai masalah dalam kriptografi. Ketika saya melihat sebuah artikel dalam bahasa Rusia, saya berkata: 'Ini sebenarnya ditulis dalam bahasa Inggris, tetapi telah dikodekan dalam beberapa simbol aneh. Sekarang saya akan melanjutkan untuk mendekode.'”

Bagi Weaver, penerjemahan hanya tentang mengganti satu simbol dengan simbol lain. Makna sebenarnya dari “simbol aneh” ini dianggap tidak relevan.

Penerjemah dan peneliti penerjemahan sering membaca bahwa otomatisasi mungkin menjadi masa depan – beberapa sudah percaya bahwa itu telah terjadi, seperti dalam banyak bidang lainnya – tetapi kita masih jauh dari teknologi yang tak dapat salah. Ada banyak contoh di Wales saja di mana orang yang tidak berbicara bahasa Wales menggunakan layanan terjemahan online, dan menerbitkan sebelum memeriksa. Hasilnya sering dilaporkan dengan humor, tetapi tidak diragukan lagi menyebabkan kebingungan dan penerjemah manusia turun tangan untuk menyelesaikan masalah.

Namun itu bukan berarti otomatisasi tidak memiliki tempatnya. Mesin, misalnya, membantu pengacara, dokter, dan guru – mereka tidak menggantikannya. Dalam hal yang sama, mesin membantu kita, para penerjemah, bekerja lebih baik, dan dapat membantu ketepatan, tetapi kecuali ada terobosan teknologi yang luar biasa, kita tidak dapat digantikan oleh mereka. Mesin memang menjadi cukup baik dalam menerjemahkan teks, tetapi ketika datang pada makna di balik teks, mereka masih membutuhkan bantuan.

 

Menyempurnakan Mesin

Penelitian saya sendiri tentang terjemahan dari bahasa Inggris ke Wales – yang akan diterbitkan nanti tahun ini – menunjukkan bahwa seorang penerjemah yang bekerja untuk memperbaiki hasil dari terjemahan mesin meningkatkan produktivitas dan mempercepat proses terjemahan.

Penelitian lebih lanjut juga menemukan bahwa proses koreksi ini menghasilkan teks yang sama dapat diterima dengan terjemahan yang dibuat dari awal. Di masyarakat seperti Wales di mana terjemahan adalah salah satu cara utama penyediaan layanan dwibahasa, pertumbuhan produktivitas ini sangat penting. Lebih dari 350.000 orang berbicara dalam bahasa Wales setiap hari, sementara otoritas lokal di seluruh Inggris juga menerjemahkan ke berbagai bahasa lainnya. Sangat penting bahwa informasi tersebut dipahami dengan cepat dan efektif.

Saat ini, mesin terjemahan dapat membuat draf kasar dari bahasa yang relatif sederhana, dan penelitian menunjukkan bahwa mengoreksi draf ini biasanya lebih efisien daripada menerjemahkan dari awal oleh manusia. Tetapi mesin tidak sekarang – dan dipertanyakan apakah mereka akan pernah mampu – menggantikan otak seorang penerjemah. Terlepas dari seberapa kompleks kode di baliknya, sebuah sistem otomatis akan kesulitan untuk mendapatkan makna yang sama dari kata-kata.


Translated by Muhammad Erwin Fatahillah

Edited by Bayu Miftahul Huda


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Implications of Culture on Language

The implications of culture on language are profound and multifaceted. Culture shapes the way individuals communicate, influencing vocabular...